Berita Mojokerto

Peringati Maulud Nabi, Warga Mojokerto ini Berebut Buah dan Pakaian di Atas Pohon Kersen

"Ini saya mendapat satu buah sepatu. Meski tak bisa dipakai karena hanya satu, saya cukup senang dengan acara ini," tuturnya kepada Surya (TRIBUNnews.

Penulis: Sudharma Adi | Editor: Yoni
surya/sudarma adi
Ratusan warga Dusun Mengelo Desa/Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto berebut buah dan pakaian, sebagai bagian peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, Senin (12/12). 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW tak hanya diisi pengajian dan shalawatan saja.

Bagi warga Dusun Mengelo, Desa/Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto, Jatim, peringatan itu juga dilakukan dengan berebut makanan dan pakaian di atas pohon kersen (keres) sebagai simbol tradisi peringatan maulud Nabi Muhammada Rasulullah SAW.

Ratusan warga dari seluruh Kecamatan Sooko rela berdesak-desakan guna menyaksikan tradisi keresan yang digelar setahun sekali ini.

Mereka mengerubungi dua pohon kersen setinggi lima meter yang telah digantung puluhan buah dan pakaian di ranting dan tempelan buah-buahan pada batang pohon.
Begitu ada aba-aba, mereka memanjat pohon itu dan berebut berbagai macam buah dan pakaian, seperti terong, kelapa, nanas dan baju.

Karena banyak warga memanjat, pohon yang tampak layu daunnya ini tiba-tiba roboh menimpa warga yang berkumpul di bawahnya.

Namun untungnya, warga yang tertimpa pohon itu tak mengalami luka berarti.

"Sedikit lecet di tangan saja karena tertimpa pohon keres," kata Fatimah (45), salah satu warga Dusun Mengelo yang ikut berebut, Senin (12/12/2016).

Meski begitu, dia tak pernah bosan dan kapok ikut tradisi ini tiap tahunnya. Karena selain acara semakin ramai dan semarak, hadiah yang disediakan juga menarik.

"Ini saya mendapat satu buah sepatu. Meski tak bisa dipakai karena hanya satu, saya cukup senang dengan acara ini," tuturnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Sebelum berebut berbagai buah dan pakaian di pohon kersen, warga lebih dulu bershalawat nabi dan mendengarkan tausiyah agama dari tokoh agama dusun setempat.

Ketua Panitia Tradisi Keresan, Sonhadi menjelaskan, tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Tradisi ini lalu diwariskan turun temurun ke warga Dusun Mengelo dan digelar rutin tiap tahun.

"Tradisi keresan ini sudah lama sekali, bahkan kami tak mengetahui kapan mulainya. Artinya tradisi ini sudah ada sejak zaman dulu dan dilestarikan," tutur pria yang juga Ketua Takmir Masjid Darussalam Dusun Mengelo ini.

Dia mengakui, tradisi ini dulunya hanya digelar di dalam masjid, dan sarana yang digunakan untuk perayaan juga bukan pohon kersen, melainkan bambu.

"Jadi dulunya selamatan mauludan ini digelar di dalam masjid. Itupun tak memakai pohon kersen. Warga hanya memakai batang bambu kecil untuk membuat tusukan buah dan makanan buat kenduri," paparnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Mengenai buah dan pakaian yang diperebutkan warga, dia mengurai jika itu semua berasal dari sumbangan warga dan pengusaha lokal desa setempat.

Dia juga mengaku memilih pohon kersen, karena dinilai pohon ini kokoh dan memiliki banyak ranting untuk digantungi berbagai macam sumbangan warga.

"Kami hanya melihat bahwa pohon ini kokoh dan tak mudah roboh," pungkasnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved