Berita Kampus Surabaya

Moratorium Kebidanan Disebut guna Tingkatkan Kualitas Perawat, begini Penjelasannya

UNTUK itu moratorium di pendidikan kesehatan tidak dilakukan pada semua jenis.

Moratorium Kebidanan Disebut guna Tingkatkan Kualitas Perawat, begini Penjelasannya
surya/ahmad pramudito
perawatan kecantikan 

SURYA.co.id | SURABAYA – Kebutuhan tenaga perawat profesional di seluruh dunia menjadi peluang penyaluran tenaga perawat dari Indonesia.

Peluang ini dilihat oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk terus dikembangkan.

Keberadaan pendidikan keperawatan, menurut Direktur Jenderal Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristek Dikti Prof Ali Ghufron Mukti sangat potensial di berbagai negara.

Berbeda dengan keberadaan bidan yang tidak bisa disalurkan hingga luar negeri. Untuk itu moratorium di pendidikan kesehatan tidak dilakukan pada semua jenis.

“Kalau kebidanan sudah ada 300 prodi, tapi kualitasnya tidak maksimal. Makanya banyak juga angka kematian ibu. Makanya kami dorong peningkatan kualiatas, apalagi untuk perawat yang memiliki peluang di berbagai negara,”jelasnya.

Ali Ghufron mengatakan hal itu usai mengisi dalam Internasional Nursing Workshop And Conference (INC) bertema Professional Nursing Practice In Free Trade Era: Threat & Challenge, digelar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, di Hotel Bumi Surabaya, Rabu (7/12/2016).

Untuk peningkatan kualitas perawat, menurutnya tenaga pengajar juga harus dimaksimalkan.

Salah satunya dengan memberikan pendidikan lanjutan pada perawat hingga s3 baik di dalam ataupun di luar negeri.

“Jumlah pendidik keperawatan berlatar belakang pendidikan S2 dan S3 di Indonesia juga masih minim dibanding besarnya jumlah penduduk. Di sisi lain jumlah lembaga pendidikan keperawatan besar. Artinya, jumlah kelulusan tidak linier dengan jumlah lulusan yang dihasilkan,”tegasnya.

Sehingga pihaknya akan mendorong beasiswa perawat hingga luar negeri. Serta membuat standar piloting pendidikan perawat yang terdaftar dan diakui dunia menjadi 3 zona. Yaitu zona negara yang bisa menerima perawat asal Indonesia.

“Lulusan perawat bisa dikirim ke Asia Timur seperti Jepang, Hong Kong, Korea. Di zona Barat seperti Canada, Amerika Serika. Serta di Timur Tengah. Karena itu diperlukan kompetensi perawat internasional,” papar pria asal Blitar, Jawa Timur ini.

Kebijakan lain mempercepat ketersediaan perawat adalah dengan menambah jumlah Politeknik Kesehatan. Lulusannya diproyeksikan untuk “eksport”. Hadir dalam workshop tersebut, delegasi lintas negara serta perwakilan Asosiasi Institusi Pendidikan ners Muhammadiyah-Aisyiyah (AIPNEMA) di Tanah Air.

Sekjen DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Misutarno mengungkapkan banyaknya perkumpulan perawat dan lembaga pendidikannya memang tidak diimbangi dengan penerapan kualitas pendidikan. Sehingga pihaknya sebagai asosiasi perawat menerapkan koligium yang menjadi standar kemampuan perawat

“Lulusan perawat sebelum terjun ke dunia kerja, tidak sekadar diharuskan mengikuti uji kompetensi. Mereka juga diwajibkan mengikuti pelatihan-pelatihan melalui kologium sebagaimana amanat Undang-Undang 38/2014 tentang Keperawatan. Ada enam koligium, di antaranya medical bedah, anak, kegawatdaruratan, jiwa dan lainnya,”tegasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved