Food

Beredar Petisi Untuk Dukung Tempe Sebagai Warisan Budaya Indonesia

SEBUAH petisi untuk mendesak agar Tempe dijadikan Warisan Budaya Indonesia. Apakah anda setuju dengan petisi tersebut? Sebelum teken, baca di sini.

Beredar Petisi Untuk Dukung Tempe Sebagai Warisan Budaya Indonesia
DBagus.com
Ilustrasi tempe 

SURYA.co.id | BOGOR - Tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal tempe.

Makanan berbahan kacang kedelai ini, umumnya selalu ada di meja-meja makan, baik di rumah, warung, hingga restoran.

Namun demikian, masih ada pandangan bahwa tempe yang sehat dan bergizi tinggi, dianggap sebagai bahan pangan kelas sosial ekonomi rendah.

Dampaknya, tempe masih kurang mendapat perhatian mendalam dari pemerintah, para pengambil kebijakan dan swasta, sehingga menyebabkan perkembagnan tempe di Indonesia relatif lamban.

Bertolak dari fakta tersebut, muncul sebuah petisi melalui laman Change.org yang ditujukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan perwakilan Unesco di Indonesia.

Petisi berjudul "Dukung Tempe sebagai Warisan Budaya Indonesia itu" diinisiasi oleh Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia atau PERGIZI Pangan Indonesia.

Hingga Sabtu (3/12/2016) siang, petisi itu sendiri telah ditandatangani oleh lebih dari 25 ribu pendukung.

Berikut adalah isi petisi tersebut yang dikutip dari laman Change.org:

Tempe merupakan produk fermentasi kacang kedelai oleh kapang Rhizopus oligosporus. Tempe dibuat dengan proses yang unik, ditemukan beberapa abad lalu oleh nenek moyang Indonesia. Tempe sekarang sudah sangat dikenal oleh banyak penduduk di beberapa negara. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe dengan bahan dasar kedelai merupakan produk fermentasi yang pertama kali dibuat oleh masyarakat Jawa Tengah dan sudah biasa dikonsumsi sejak tahun 1700-an.

Tempe banyak diproduksi oleh industri kecil dan rumahtangga dengan kisaran produksi 10 kg – 2 ton per hari. Hingga saat ini terdapat lebih dari 100,000 produsen tempe yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Konsumsi tempe memberikan kontribusi minimal 10% dari total protein harian, sementara telur 1.25%, daging 3.15% dan sereal sekitar 60%. Data BPS (2012) menunjukkan bahwa konsumsi tempe masyarakat Indonesia secara rata-rata mencapai 7 kg/kapita/tahun.

Di Indonesia, tempe telah diterima sebagai salah satu pangan sehat dan bergizi tinggi. Meskipun demikian, tempe masih dianggap sebagai pangan kelas sosial ekonomi rendah. Hal ini menjadi salah satu alasan tempe masih kurang mendapat perhatian mendalam dari pemerintah, para pengambil kebijakan dan swasta sehingga perkembangan tempe di Indonesia relatif lamban.

Sementara itu, di beberapa negara lain, tempe justru mendapat perhatian besar, khususnya perhatian terhadap kandungan gizi tempe yang unik, yaitu tempe dapat digunakan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada masyarakat miskin, serta potensi untuk mencegah penyakit kronis. Hal ini menjadikan tempe yang merupakan pangan asli dan tradisional masyarakat Indonesia berpotensi besar untuk diklaim dan diakui sebagai pangan asli negara lain.

Berdasarkan hal tersebut, perlu diciptakan persepsi yang lebih baik tentang tempe untuk menggantikan persepsi negatif tentang tempe sebagai pangan kelas sosial ekonomi rendah sehingga akan muncul persepsi tempe sebagai makanan tradisional yang membanggakan. Terinspirasi dari pengakuan UNESCO terhadap Batik dalam daftar “Intangible Cultural Heritage of Humanity”, tempe memiliki potensi yang besar untuk tercantum dalam daftar tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, tempe bukan sekedar makanan, tetapi memiliki nilai budaya, sejarah dan ekonomi bangsa. Karena keunikannya, tempe layak untuk menjadi simbol budaya Indonesia.

Dengan tercantum dalam daftar “Intangible Cultural Heritage of Humanity”, UNESCO, maka status tempe akan meningkat baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. Hal tersebut juga dapat memperbaiki status tempe yang selama ini dikenal sebagai pangan masyarakat miskin sehingga dapat dikonsumsi dengan bangga oleh semua kalangan.

 

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved