Berita Kampus Surabaya
UIN Sunan Ampel Terima Utang Rp 568,5 Miliar, Kini Berharap Utang Lagi Rp 676,9 Miliar
KAMPUS UIN SUNAN AMPEL KINI MEGAH. Mesti bangga atau mengelus dada? Itu duit utang. Pertama Rp 568,5 miliar, berikutnya Rp 676,9 miliar.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Yuli
SURYA.co.id| SURABAYA – Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menunggu cairnya pinjaman untuk melanjutkan pembangunan kampus 2.
Kampus II di wilayah Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya pada 2017 memerlukan lahan sekitar 30 hektare tapi baru 11 hektare berhasil dibebaskan dari masyarakat.
Untuk merealisasikan target pembangunan, perguruan tinggi yang berpusat di Jalan Ahmad Yani Surabaya ini menunggu realisasi pencairan dana pinjaman dari Islamic Development Bank (IDB, Bank Pembangunan Islam) tahap II. Nilainya berkisar 50 juta USD atau sekitar Rp 676,9 miliar.
Achmad Zaini, Project Manager pembangunan UINSA mengatakan, peminjam dana dari IDB adalah negara yang didistribusikan ke Kementerian Keuangan, Kementerian Agama, selanjutnya ke UINSA.
“Jadi yang meminjam negara. UINSA sebatas menerima manfaat dari penggunaan anggaran,” kata Achmad Zaini di sela Appraisal II IDB, di Kampus UINSA, Senin (28/11/2016).
IDB sengaja datang untuk melihat realisasi pembangunan yang menggunakan dana pinjaman IDB tahap I senilai 42 juta USD atau sekitar Rp 568,5 miliar.
Pada pinjaman tahap pertama nilainya 42 juta USD. Untuk pinjaman tahap dua, kebutuhannya 50 juta USD.
“Nilai yang akan disetujui belum tahu. Cuma ketetapan dari Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), maksimal nilai pinjaman 50 juta USD, tidak bisa lebih. Kalau kurang dari batas maksimal itu bisa,” papar Zaini yang juga dosen di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Rektor UINSA Prof Abd A’la menyatakan, dana pinjaman tahap pertama 42 juta USD dari IDB sudah dimanfaatkan untuk membangun twin tower, masjid, gedung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, gedung Fakultas Syariah, laboratorium, sport center, ruang pasca sarjana serta multifunction.
“Hari ini (kemarin) perwakilan IDB Jeddah datang melihat langsung wujud pembangunan,” tegasnya.
Untuk dana pinjaman tahap dua yang belum disetujui dan cair, rencana untuk membangun gedung-gedung fakultas non Islamic Studi di Kampus II Gunung Anyar.
Bersamaan kelarnya kampus II, A’la berharap UINSA tiap tahun mampu menerima 10 ribu mahasiswa.
A’la menyebut ketersediaan sarana prasarana kampus tidak akan berpengaruh pada Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Menteri Agama selaku Pembina Badan Layanan Umum mendapat penghargaan sebagai manajer PTKN (Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri) terbaik. Meski di Jakarta ada PTKN yang memiliki Fakultas Kedokteran, namun UKT rendah. Di UINSA, penentuan UKT juga berdasar survei lapangan. Mahasiswa yang kurang beruntung menjadi sasaran program penentuan UKT, bahkan ada yang nol persen,” tuturnya.
A’la menyebut tiap bulan rektorat selalu menandatangani pengajuan penurunan UKT. Di sisi lain, juga menyetujui berkas pengajuan kenaikkan UKT dari mahasiswa yang sebelumnya kurang mampu dan kini menjadi mampu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-surabaya-kampus-uinsa_20160614_141243.jpg)