Citizen Reporter

Mengintip Aksi Mersy, Mesin Peredam Polusi Industri Rancangan Siwa SMAN 1 Trenggalek

polusi udara akibat mesin disel yang digunakan dalam industri pengolah ketela pohon di Trenggalek memicu siswa SMA di sana merancang Mersy...

Mengintip Aksi Mersy, Mesin Peredam Polusi Industri Rancangan Siwa SMAN 1 Trenggalek
istimewa
ketela pohon 

 

Reportase : Diwyareta Ristya Ayuningtyas
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Surabaya

LABEL Limestone Water System atau Mersy ditempelkan untuk alat yang dirancang siswa SMAN 1 Trenggalek untuk menghancurkan ketela pohon hingga berbentuk tepung yang kemudian direaksikan dengan air kapur. 

Fandi Azam Wiranata, salah satu siswa perancang Mersy saat ditemui di stan Pemkab Trenggalek di ajang Riset Expo Unair 2016, Kamis (10/11/2016) di Universitas Airlangga Surabaya mengatakan, Trenggalek terkenal dengan industri rumah tangga penggilingan ketela pohon dengan memanfaatkan diesel sebagai salah satu alatnya.

Sayangnya, lanjut Fandi, diesel banyak menimbulkan gas buang (karbon dioksida dan karbon monoksida) yang mengakibatkan polusi udara. Lebih memprihatinkan, industri rumah tangga yang tersebar di seluruh Trenggalek beroperasi setiap hari. Polusi udara yang dihasilkan juga semakin banyak. Oleh karena itu, mereka mencoba mencari solusi.

Berangkat dari teori bahwa kalsium hidroksida (Ca(OH)2) atau air kapur dapat mengendapkan polutan yang dihasilkan dari cerobong asap pabrik, maka lahirlah Mersy yang bisa dimanfaatkan untuk meredam polutan.

Mersy ini dihubungkan dengan cerobong asap di pabrik. Asap pabrik akan mengalir pada tabung satu Mersy yang di dalamnya sudah terdapat kalsium hidroksida dan pipa spiral di bagian bawah.

Gas akan muncul pada bagian bawah untuk meningkatkan reaksi agar lebih lama. Setelah itu, gas tersebut akan mengalir pada tabung dua dan direaksikan kembali. Pada tabung dua inilah akan terbentuk endapan berupa kalsium karbonat, kalsium nitrit, dan asam nitrat. Polutan yang keluar secara bebas akan berkurang tingkat karbon dioksida dan karbon monoksidanya.

Menariknya Mersy ini sudah diuji oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Fandi mengisahkan, pembuatan Mersy butuh waktu empat bulan. Pengelasan adalah bagian yang memakan waktu cukup lama.

Kendati ketela pohon menginspirasi kelahiran Mersy, Fandi menyebut, alat tersebut juga bisa dimanfaatkan di semua jenis industri.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved