Berita Surabaya

DRONE VIDEO - Lihat Parahnya Kemacetan di Surabaya, Simak Cara Menyiasatinya

Ini cara mengemudi guna mengoptimalkan konsumsi bahan bakar dan mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya.

SURYA.co.id | SURABAYA - Populasi kendaraan bermotor yang terus meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun menuntut produsen mengembangkan teknologi mesin yang ramah lingkungan. Tapi, tapi tanpa disertai perilaku mengemudi yang cerdas, target itu tak mungkin tercapai.

Edukasi positif menjadi sebuah keharusan dan solusi cerdas. Bila tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin, populasi kendaraan bermotor yang akan mencapai 2 miliar pada 2035, dapat menjadi bencana dunia.

Sebagaimana terlihat dalam video drone di atas, kemacetan lalu lintas di Surabaya terlihat makin parah. 

Bagaimana cara menyiasatinya?

Sugihendi dari Nissan College-Nissan Training Center menjelaskan eco driving dari sisi pemakaian dan kemampuan berkendara.

“Ini cara mengemudi guna mengoptimalkan konsumsi bahan bakar dan mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya,” jelasnya saat talk show eco driving di Surabaya, pekan lalu.

Bukan hanya eco driving tapi ada defensif driving dan safety driving. Kalau ketiganya dapat dilakukan, maka akan meminimalkan konsumsi bahan bakar. Jadi, manfaat eco driving banyak sekali, baik dari segi biaya, lingkungan, sosial dan keamanan.

Namun Sugihendi mengingatkan untuk menggunakan AC kendaraan seperlunya, dan merawat setiap bulannya. Managing Editor Mobil123.com, Indra Prabowo menambahkan, eco driving berpengaruh pada penggunaaan energi bahan bakar fosil.

“Imbas nantinya adalah efek rumah kaca menjadi bencana terbesar. Sekarang saatnya rekayasa teknologi dilakukan produsen kendaraan,” ujarnya.

Eco driving dengan rekayasa teknologi kendaraan menjadi penting untuk mengantisipasi kelangkaan sumber bahan bakar yang berasal dari fosil, delaras dengan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, bertambah pula permintaan bahan bakar, baik petrol maupun solar.

Sektor transportasi menempati posisi kedua sebagai penyumbang emisi karbon terbesar serta menjadi salah satu penyumbang pemanasan global lewat penyerapan gas CO2 dari efek rumah kaca.

"Eco driving berkontribusi dalam hal ini pada program pelestarian lingkungan,” pungkas Indra. (wiwit purwanto)

Penulis: Dodo Hawe
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved