Breaking News:

Citizen Reporter

Membidik Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek yang pernah menjadi saksi bisu hebatnya pertempuran 10 Nopember 1945 kembali menjadi saksi serbuan aksi di Novemver 2016 ini...

rintahani johan pradana/citizen
Fografer beraksi di Benteng Kedung Cowek Surabaya 

Reportase : Rintahani Johan Pradana
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang
fb.com/joe pradana

BENTENG Kedung Cowek merupakan satu di antara puluhan saksi bisu pertempuran 10 Nopember  1945 di Surabaya. Bangunan ini berdiri kokoh menghadap Selat Madura dan menjadi salah satu titik yang dipertahankan oleh Batalyon Sriwijaya di Surabaya, waktu itu. Diperkirakan, lebih dari 200 nyawa melayang dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan dari amukan tentara Sekutu.

Sabtu, 5 November 2016 lalu, benteng Kedung Cowek kembali menjadi objek serbuan. Kali ini pelakunya puluhan fotografer peserta Historical Re-enactment Photo Contest. Mereka datang untuk membidik Benteng Kedung Cowek dengan kamera masing-masing.

“Silakan untuk memilih talent yang akan dijadikan model photo,” ujar Letkol Yudo Ponco Ari dari Sekolah Pasukan Katak.

Ady Setiawan dari Komunitas Roodebrug Soerabaia, memberikan penjelasan kepada peserta terkait peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Benteng Kedung Cowek. Harapannya para fotografer mampu mengimajinasikan pertempuran di benteng Kedung Cowek, serta memilih talent dan adegan untuk direkaulang. Cuaca Surabaya yang amat panas siang itu, tak menyurutkan antusias fotografer dan para talent yang terlibat.

Beragam peristiwa yang direkaulang menghasilkan banyak adegan menarik yang cukup mampu mewakili gambaran pertempuran yang terjadi. Ledakan, suara senapan, teriakan para talent yang memerankan diri sebagai pejuang maupun pasukan sekutu turut menghidupkan suasana. Berlari menghindari ledakan, melompat di antara vegetasi tanaman liar, hingga terguling di tanah. Perkelahian antara pejuang dengan pasukan sekutu juga tak kalah seru untuk dibidik.

Karya foto terbaik peserta akan dipamerkan di TunjunganPlasa Surabaya, tanggal 11 hingga 13 November 2016. “Setiap peserta hanya diberikan kesempatan mengirimkan tiga karya mereka untuk kemudian diseleksi panitia,” ujar Erik Ireng, juri photo contest.

Meskipun cukup banyak gambar yang sangat menarik, namun peraturan lomba tentu membuat para fotografer musti jeli memilih karya mereka, sebelum diseleksi juri.

Historical Re-enactment Photo Contest menjadi hal yang unik dan baru dalam rangka memelajari peritiwa sejarah. Terlebih bila melihat beragam properti yang digunakan, mulai bahan peledak sungguhan hingga akting para talent yang sangat memukau.

Kegiatan ini turut memberi warna baru, bagaimana peristiwa pertempuran direkaulang di tempat kejadian, melibatkan para talent dengan atribut semirip mungkin serta fotografer dengan kamera canggih, sehingga melalui gambar hasil bidikan lensa, sebuah peristiwa bersejarah coba dibicarakan dan dikenang kembali.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved