Berita Gresik

Biadab, Guru Ngaji Grayangi 8 Santrinya saat sang Istri Tak di Rumah, begini Modusnya

Syamsul ditahan Polres Gresik akibat perbuatannya diduga cabul terhadap 8 santrinya.

Biadab, Guru Ngaji Grayangi 8 Santrinya saat sang Istri Tak di Rumah, begini Modusnya
surya/sugiyono
MENUNGGU - Beberapa saudara dari korban menunggu di Unit PPA Polres Gresik, Rabu (9/11/2016). 

SURYA.co.id | GRESIK - Perbuatan Syamsul Huda (43), guru ngaji di yayasan Desa Sembung, Kecamatan Wringinanom tak patut ditiru.

Syamsul ditahan Polres Gresik akibat perbuatannya diduga cabul terhadap 8 santrinya.

Perbuatan tersangka diduga dilakukan sejak akhir 2015, dengan cara meraba-raba alat vitalnya dan ada pula seorang santri yang disetubuhi.

Aksi warga kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, ini terkuak ketika salah satu korban berperilaku lain saat di rumah.

Orang tua yang curiga atas perubahan perilaku putrinya, kemudian menanyakan kepada putrinya yang masih duduk di bangku Madrasah ibtidaiyah (MI).

Akhirnya korban mengaku diperlakukan tak senono oleh guru ngajinya akhirnya perbuatan guru tersebut dilaporkan ke Polsek Wringinanom.

Laporkan itu diikuti sejumlah wali santri lainnya. Sampai akhirnya kasusnya dilimpahkan ke Polres Gresik.

"Kasusnya sudah dilimpahkan ke Polres," kata Kapolsek Wringinanom AKP Rudy Hartono, Rabu (9/11/2016).

Modusnya Syamsul Huda, selaku pemilik yayasan dan guru ngaji ini mempedayai santrinya denagn cara menyuruhnya untuk datang ke sekolah lebih awal.

Terkadang juga di saat istirahat sekolah, siswi dipanggil ke rumah untuk membantu bersih-bersih rumah.

Ternyata, saat itu istrinya tidak ada di rumah lalu dimanfaatkan untuk melampiaskan hawa nafsu dengan meraba-raba buah dada dan vagina santrinya. Ada juga yang disetubuhinya.

"Delapan korban sudah diperiksa. Pelaku sudah ditahan sejak beberapa hari lalu. Tersangka dijerat Pasal 81 dan 82 Undang-undang Perlindungan anak dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun,” kata Kaur Bins Ops Satreskrim Polres Gresik, Iptu Boediono yang juga mantan Kanit Reskrim Polsek Kebomas.

Melihat korban dugaan pencabulan dan asusila melibatkan anak-anak, sehingga korban didampingi orang tua dan saudara.

Termasuk lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Gresik juga ikut mendampingi korban.

"P2TP2A masih melakukan pendampingan. Sekarang masih di Polres. Saya masih rapat," kata Sri Hartati Ningsih Sekretaris P2TP2A Kabupaten Gresik.

Penulis: Sugiyono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved