Breaking News:

Berita Kampus Surabaya

Wakil Menteri ESDM : Kembangkan Bahan Bakar Alternatif Untuk Kemandirian Energi

"Semakin banyak turunan sumber daya alam, semakin tinggi nilai kemanfataannya," ujarnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

surya/Habiburahman
KEMANFAATAN KEKAYAAN ALAM - Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar pada talk show "Kemandirian Energisebagai Kekuat Ketahanan Nasional” di Graha ITS SUrabaya, Sabtu (29/10/2016). Arcandra membahas bagaimana memanfaatkan kekayaan alam (Sumber daya alam) dan bukan menjadikannya sebagai bahan komoditas. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar mengungkapkan, pentingnya kemandirian energi alternatif untuk mengedepankan kemanfaatan pengelolaan sumber daya alam.

Doktor Ocean Engineering dari Texas A&M University di Amerika Serikat (AS) pada 2001 ini menuturkan, sumber daya alam harus dikelola dengan prinsip kebermanfatan, bukan menjadikannya komoditas karena UUD 1945 jelas menyatakan kekayaan alam dikelola dan dikuasai negara serta digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

"Kalau menjadikan kekayaan alam sebagai komoditas maka kemanfaatan yang diperoleh lebih kecil," jelasnya membuka talk show “Kemandirian Energisebagai Kekuatan Ketahanan Nasional” di Institur Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sabtu (29/10/2016).

Ia memberi contoh, jika gas dijadikan komoditas maka cukup dijual saja sehingga dapat keuntungan, tetapi kalau mengedepankan asas kemanfaatan, bisa dibuat produk turunan dari gas, seperti pupuk hingga industri petrokimia sehingga nilai untung gas berlipat-lipat.

"Semakin banyak turunan sumber daya alam, semakin tinggi nilai kemanfataannya," ujarnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Dia juga menekankan pentingnya menjaga kemandirian bangsa pada bidang energi agar negara menjadi berdaulat.

"Kedaulatan erat kaitannya dengan ketahanan artinya ketersediaan terjamin dan dapat diakses serta stok mencukupi sehingga bangsa bisa mandiri," tutur Arcandra.

Untuk menuju hal ini, menurutnya perlu adanya proses bisnis, sumber daya manusia dan teknologi. Tanpa teknologi ia pesimis kemandirian energi ini bisa terbentuk.

Sebab, menurutnya jika hanya mengandalkan teknologi yang ada sekarang akan sangat mustahil membicarakan kemandirian energi.

“ Suatu saat saya diingatkan ketika saya mencoba teknologi karena beresiko pidana, pafahal teknologi ada kalanya dia gagal. Dari gagal nanti ada perbaikan. Kalau gagal di Indonesiia ada embel-embel kriminalisasi ini kapan bisa sukses,”jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved