Berita Surabaya

Terapkan Budaya Literasi, Siswa Bawa Buku untuk Stok Kelas

Ia mengungkapkan, untuk menarik minat baca siswa, sekolah mengadakan lomba perpustakaan yang berlangsung sejak 2015.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
surya/ahmad zaimul haq
Siswa dan warga membaca buku di Perpustakaan umum kota Surabaya di komplek Balai Pemuda, Rabu (26/10/2016). Perpustaakaan yang beroperasi tiap hari diharapkan mampu memenuhi keinginan masyarakat sebagai pusat literasi. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Sejumlah sekolah di Surabaya mulai menerapkan program budaya literasi sejak dicanangkan secara nasional.

Bahkan, kini dua sekolah, SMAN 16 dan SMAN 21, menjadi sekolah rujukan untuk budaya membaca ini.

Di SMAN 16 misalnya, ada perpustakaan di setiap kelas, yang berisi tidak hanya buku pelajaran tetapi juga buku bacaan siswa. Siswa wajib membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

“Setelah membaca, siswa membuat jurnal yang diketahui guru jaga untuk nilai bahasa Indonesia,” ujar Abdul Razzaq, Wakil Kepala SMAN 16, Rabu (26/10).

Ia mengungkapkan, untuk menarik minat baca siswa, sekolah mengadakan lomba perpustakaan yang berlangsung sejak 2015.

Setiap kelas memiliki tema dan bentuk perpustakaan yang berbeda. Untuk pengadaan buku, siswa diminta membawa buku dari rumah untuk disimpan di sekolah.

“Di setiap buku, ada label peminjaman, sehingga diketahui telah dibaca siapa saja,” katanya.

Selain itu, rak-rak baca juga diletakkan di berbagai lokasi yang sering dijadikan tempat berkumpul siswa saat jam istirahat. Seperti, di kantin atau di area taman.

Untuk perpustakaan di kelas juga dikelola siswa dengan jabatan, ketua perpustakaan. Tugasnya, mendata dan mengoordinir buku di perpustakaan kelas.

Lain lagi dengan di SMAN 1, dimana penerapan budaya literasi dilinierkan dengan penilaian pada pelajaran. Siswa harus membaca buku dan membuat resume mulai Senin sampai Kamis.

“Kami ubah untuk waktu membaca buku saat akan mendekati jam pulang sekolah, jadi bisa lebih mempersiapkan diri untuk pelajaran pertama,” terang Ari Suprapto, Wakil Kepala SMAN 1.

Tantangan Membaca
Kepala Dindik Surabaya, Ikhsan mengatakan, penerapan budaya litersi ini sudah dimulai sejak 2012.

Bahkan, di Surabaya tidak lagi menargetkan peningkatan minat baca tetapi lebih pada gemar membaca. Hal ini dengan menarget buku yang selesai dibaca siswa setiap tahun.

“Di 2015 misalnya, dibuat gerakan berupa tantangan membaca bagi siswa Surabaya,” ujarnya.

Tantangan membaca ini ditujukan bagi siswa semua jenjang dengan ketentuan, yakni siswa SD/MI membaca 20–30 buku, SMP/MTs 15 buku dan SMA/SMK/MA 10 buku.

Dengan adanya program ini, mau tidak mau setiap sekolah harus menyediakan buku-buku yang nanti akan direkomendasikan kepada siswanya untuk dibaca.
Adapun target minimal yang hendak dicapai, jumlah yang akan dibaca siswa 1 juta buku.

“Pantauan kami di lapangan, ternyata program ini cukup diminati siswa dan mereka termotivasi untuk membaca baik di sekolah maupun di rumah. Tahun ini, saya target 2 juta buku,” tegasnya.

Menurut Ikhsan, jika sekolah kesulitan memasok buku, maka ia juga menghimbau siswa untuk membawa buku pribadi dan bisa saling tukar baca dengan temannya di sekolah.

“Budaya membaca saat ini tidak hanya 15 menit sebelum pelajaran. Tetapi, telah berkembang dengan membuat cerpen, film, komik, dan membuat puisi, sebagai pengembangan literasi budaya,” paparnya.

Sumber: Surya Cetak
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved