Berita Kampus Surabaya

Prof Iskandar Bicara Metode Pembelajaran agar Tak Mengarah Kekerasan pada Anak

Prof Iskandar Wiryokusumo mengatakan, selama ini pembelajaran guru dilakukan dengan konsep behavioristik.

surya/neneng uswatun hasanah
ARSIP - Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Dr H Djoko Adi Walujo ST MM DBA (kiri), Direktur Pembelajaran Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Dr Ir Paristyanti Nurwadani MP (tengah), dan Ketua PPLP PT PGRI Surabaya Prof Dr Iskandar Wiryokusumo MSc (kanan) dalam acara workshop standar nasional pembelajaran, Rabu (30/3/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pembelajaran dalam sekolah harus terus dimodifikasi dan dikembangkan. Sebab pola pembelajaran akan mempengaruhi lingkungan sekolah agar tidak mengarah pada kekerasan terhadap anak.

Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) , Prof Iskandar Wiryokusumo mengatakan, selama ini pembelajaran guru dilakukan dengan konsep behavioristik.

Maksudnya, guru melihat kemampuan anak dari luar. Misalnya, anak sudah bisa menghitung dan sebagainya.

”Dalam teori behavior ini, guru menekankan disiplin dari luar, tapi pada kenyataanya reaksi anak berbeda, ada yang protes dan menganggap upaya disiplin itu sebagai bentuk tekanan maupun kekerasan,” kata Iskandar dalam seminar bertajuk Pendidikan Kasih Sayang, Solusi Pencegahan Kekerasan pada Anak di Gedung Pascasarjana Unipa Surabaya,  Senin (24/10/2016).

Menurut dia, guru harus mampu melakukan upaya pendisiplinan anak dengan menggunakan kasih sayang. Sebab, guru yang mengajarkan kedisiplinan dengan rasa kasih sayang akan memunculkan pembelajaran kontruktivisme.

Maksudnya, mula pembelajaran yang awalnya berorentasi pada siswa, namun kasih sayang siswa proses pembelajaran berpusat juga siswa.

“Bila diposisikan bagaikan bejana kosong yang siap diisi. Dengan sikap pasrah siswa disiapkan untuk dijejali informasi oleh gurunya. Atau siswa dikondisikan sedemikian rupa untuk menerima pengatahuan dari gurunya,” paparnya.

Menurutnya, siswa harus diposisikan sebagai mitra belajar guru. Guru bukan satu-satunya pusat informasi dan yang paling tahu.

Guru hanya salah satu sumber belajar atau sumber informasi. Sedangkan sumber belajar yang lain bisa teman sebaya, perpustakaan, alam, laboratorium, televisi dan lainnya. 

”Pembelajaran konstruktif dengan kasih sayang akan membuat anak menyadari akan tanggung jawab pada dirinya. Siswa boleh bebas tapi tidak merugikan orang lain. Jika demikian, siswa dan guru memiliki kesadaran untuk tidak melakukan tindakan kekerasan ke orang lain,” kata Iskandar. 

Iskandar berharap lulusan Unipa mampu berinovasi dalam proses pembelajaran.

”Apapun metode yang digunakan, baik pembejalaran behavioristik maupun kontruktif, namun semua lulusan Unipa tetap menjadi guru yang mengajar dengan kasih sayang,” pungkas Iskandar.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved