Jumat, 10 April 2026

Berita Sidoarjo

IDI Sidoarjo Demo Tolak Sistem Dokter Layanan Primer, Alasannya. . .

Sistem DLP mengharuskan dokter spesialis sekolah lagi tiga tahun untuk mengambil jurusan spesialis lagi.

Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Titis Jati Permata
surya/irwan syairwan
Dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo melakukan aksi demo menolak sistem Dokter Layanan Primer (DLP), Senin (24/10/2016). 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Para dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo melakukan aksi demo menolak sistem Dokter Layanan Primer (DLP), Senin (24/10/2016).

Para dokter ini berjalan kaki dari kantor IDI Sidoarjo menuju Monumen Jayandaru Alun-Alun Sidoarjo sambil membentangkan spanduk berisi penolakan terhadap DLP tersebut.

Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota Pengurus Besar IDI, dr Rudy Sapoelete, yang turut dalam aksi bersama koleganya di Sidoarjo, mengatakan sistem DLP ini tak memiliki arah tujuan jelas dari hierarki kedokteran di Indonesia.

"Sistem DLP mengharuskan dokter spesialis sekolah lagi tiga tahun untuk mengambil jurusan spesialis lagi. Ini kan mengada-ada," kata Rudy yang diamini puluhan dokter lainnya.

Dijelaskan, hierarki kedokteran di Indonesia adalah dokter umum baru kemudiam dokter spesialis. Namun, sistem DLP ini dianggap tak jelas tujuannya.

Sebab, berdasarkan Undang-Undang (UU) yang akan diterbitkan Menkes dan Mendikbud nanti, posisi DLP berada di tengah-tengah antara dokter umum dengan spesialis.

"Padahal, materi DLP berdasarkan UU itu tadi sudah terpenuhi di Pendidikan Dokter Umum (PDU)," sambungnya.

Anehnya, lanjut Rudy, materi DLP ini sangat jauh kespesialisasiannya dari Pendidikan Dokter Spesialis (PDS).

Berdasarkan UU DLP, jelasnya, ke depannya para lulusan dokter umum dan juga dokter spesialis harus sekolah lagi di PDU dan PDS untuk mengambil gelar dokter DSP.

"Ini kan sangat aneh. Kalau tidak sekolah, tidal boleh praktek. Lalu RS-RS diisi siapa kalau semua dokter diwajibkan sekolah lagi. Kami menolak DLP," tegasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved