Hari Santri

Wabup Gresik: Ponpes dan Santri Harus Terbuka Dengan Lingkungan

Reaksi jihad bagi santri itu harus dimaknai menambah ilmu pengetahuan kuat, meningkatkan solidaritas dan bakti sosial dengan lingkungan," katanya kepa

Wabup Gresik: Ponpes dan Santri Harus Terbuka Dengan Lingkungan
surya/RORRY NURMAWATI
Suasana upacara peringatan Hari Santri Nasional 2016 di Lapangan Tugu Pahlawan, Sabtu (22/10). 

SURYA.co.id | GRESIK - Ribuan santri di Kabupaten Gresik melaksanakan upacara bendera di lapangan Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) yang jatih pada 22 Oktober 2016.

Bahkan apada kesmepatan itu juga digelar kirab budaya, dengan menunjukan keterampilan dan kemampuan pondok pesantren (ponpes) dalam peran kehidupan sosial serta mengisi kemerdekaan Indonesia, Sabtu (22/10/2016).

Wakil bupati Gresik Mohamad Qosim menjadi pembina upacara mengatakan, bahwa sejak proklamasikan 17 Agustus 1945, pasukan penjajah ingin menguasai Indonesia kembali dengan menggerakkan tentaranya. Kemudian KH Hasyim Asy'ari bersama para kyai bergerak bersatu memperjuangkan dan mempertahankan kamerdekaan. Ternyata dengan semangat menggelora bisa berhasil sampai sekarang," kata Qosim dengan didampingi para Kyai, Pengurua PCNU Kabupaten Gresik dan PC Ansor Kabupaten Gresik.

Dengan perkembangan teknologi dan industri, peranan ponpes dan pendidikan ala santri menjadi sangat penting.

Sebab adanya benteng pengetahuan yang kuat dari dasar-dasar ilmu agama yang kuat.

"Ponpes dan santri itu benteng agama, mereka yang menjaga kelangsungan ajaran agama yang bisa menjadi benteng bagi negara," imbuhnya.

"Misalnya, dengan menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) sehingga santri tahu bahaya narkoba dan tidak sampai terjerumus seperti yang ada di luar pulau. Menggandeng dengan TNI dan Polri sehingga bisa mengetahui perkembangan aliran-aliran Islam yang berkembang di luar pondok pesantren. Seperti adanya aliran ISIS," imbuhnya.

Qosim juga berpesan bahwa perjuangan santri dijaman sekarang tidak lagi berupa peperangan yang menggambarkan kekerasan.

"Seperti yang disampaikan KH Aqil Siradj tadi, lihat itu jangan dimaknai dengan perang itu berarti mengubah semuanya dengan kekerasan. Reaksi jihad bagi santri itu harus dimaknai menambah ilmu pengetahuan kuat, meningkatkan solidaritas dan bakti sosial dengan lingkungan," katanya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Sementara Ketua Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Gresik Agus Junaidi, mengatakan bahwa dengan hari santri ini harus dimaknai dengan perjuangan.

"Perjuangan dulu dengan sekarang itu berbeda. Dulu berjuang dengan melawan penjajah, sekarang ini para santri harus berjuang mengisi kemerdekaan dengan ilmu pengetahuan yang kuat sehingga bisa menciptakan hal-hal yang bermanfaat dan membuat negara semakin mandiri," kata Agus.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Sugiyono
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved