Breaking News:

Berita Mojokerto

Tersulut Emosi, Puluhan Pendekar Silat Lempari Rumah Warga Mojokerto, Begini Akhirnya

Mereka tak hanya berteriak, tapi juga melempari beberapa rumah warga. Tak pelak, ada tiga rumah warga yang kacanya pecah.

Penulis: Sudharma Adi | Editor: Musahadah
surya/sudharma adi
Polisi menginterogasi 35 simpatisan PSHT di ruang Aula Prabu Hayam Wuruk Mapolres Mojokerto Kota, Selasa (18/10/2016). 

"Untuk yang meninggal itu murni karena kecelakaan tunggal. Dia meninggal setelah motor Yamaha Vixion nopol W 6206 MP yang dikendarai bersama Andika Dwi Pratama (17) menabrak tiang listrik. Dia meninggal, bukan karena pengeroyokan," jelas AKP Andria Diana Putra, Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota.

Keributan itu bermula ketika usai tahlilan meninggalnya Dwi Cahyono (19) di Desa Temuireng Kecamatan Dawarblandong, para simpatisan PSHT yang datang tahlilan itu kemudian konvoi ke beberapa desa pada Selasa (18/10) dini hari.

Polisi yang sudah tahu ada konvoi ikut berjaga-jaga di area yang dilewati konvoi simpatisan PSHT itu. Ketika lewat di Desa Pulorejo, para simpatisan yang konvoi itu lalu berteriak-teriak.

Mereka tak hanya berteriak, tapi juga melempari beberapa rumah warga. Tak pelak, ada tiga rumah warga yang kacanya pecah.

"Ada satu mobil patroli Polsek Dawarblandong yang kacanya pecah kena lempar batu. Dua sepeda motor milik Babinsa juga kena lempar batu," jelas Andria.

Begitu peristiwa keributan itu, polisi kemudian menyisir dan mengamankan simpatisan PSHT itu.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved