Berita Sumenep Madura
Ratusan Ton Tembakau Warga Sumenep Tak Terbeli, Ini Peyebabnya
"Tapi karena cuaca, maka pembelian kami hanya mencapai 35% saja," papar Freddy kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Penulis: Moh Rivai | Editor: Yoni
SURYA.co.id | SUMENEP – Musim tembakau tahun 2016 ini merupakan tahun terburuk dalam sejarah petani tembakau di Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.
Selain cuaca yang tidak menentu juga hampir 80 persen hasil tembakau banyak tidak terbeli.
Selain itu, gudang pembelian tembakau banyak tidak buka dan kalau pun ada hanya buka satu bulan.
Akibatnya, ratusan ton tembakau petani banyak ngendap tak terbeli, karena baik tengkulak atau bandul tembakau tidak berani membeli tembakau petani karena gudang pun banyak yang tidak membuka pembelian tembakau.
Hanya ada perwakilan PT Gudang Garam Kediri di Desa Gedungan, Sumenep yang pernah buka awal September dan tutup awal Oktober.
"Hanya sebagian kecil petani tembakau yang berhasil menjual hasil tembakaunya. Itupun harganya sangat rendah, karena saat itu awal buka gudang pembelian tembakau di Sumenep," ujar H Murhawi ketua Paguyuban Petani Tembakau, Pasongsongan, Sumenep kepada Surya (TRIBUNnews.com Network), Rabu (12/10/2016).
Menurutnya, sebetulnya pada awal Oktober ini merupakan masa panen raya, karena sebagian besar tanaman tembakau sudah matang untuk dipanen pada awal Oktober.
Sehingga waktu rajang tembakau dan menjemur tembakau hasil rajangannya pada pertengahan bulan Oktober, sekaligus waktu jualnya pun pada pertengahan bulan ini.
"Celakanya, di tengan masa panen raya itu, justru banyak pabrikan rokok yang biasanya membeli tembakau melalui perwakilannya justru tutup. Hanya PT Gudang Garam yang buka, akan tetapi celakanya hanya sebulan, lalu tutup lagi," bebernya.
Karenanya, saat ini petani tembakau yang sedang panen pun blingsatan. Hasil tembakaunya tidak ada yang mau beli, dan masih ditambah pula dengan curah hujan yang turun pada saat musim kemarau juga membuat kualitas tembakau jelek.
"Kini kita banyak melihat tumpukan tembakau hasil rajangannya menumpuk di depan teras rumah masing-masing tak ada yang beli. Jangankan beli, nawarnyapun tak ada," imbuhnya H Murhawi yang kini punya 8 ball tembakau hasil panennya.
Di lain pihak, Wakil Kuasa Pembelian Tembakau PT Gudang Garam Kediri di Desa Geddungan, Sumenep, Freddy Kustianto, mengakui jika perusahannya akhirnya menutup pembelian tembakau ranjangan di Sumenep.
Hal itu dikarenakan kualitas tembakau jelek akibat cuaca musim kemarau sangat buruk.
"Terpaksa kami tutup pembelian tembakau di Sumenep ini karena cuaca musim kemarau tahun ini sangat buruk. Hal itu ditandai dengan hujan yang terus menerus turun, sehingga hasil tembakaunya jelek," ujar Freddy Kustianto.
Diakuinya, sejak buka pembelian tembakau pada tanggal 5 September lalu, pihaknya berharap cuaca masih bagus dan hasil tembakau juga bagus. Sehingga peruhasaannya menargetkan pembelian tembakau tahun ini sebanyak 1600 ton.
"Tapi karena cuaca, maka pembelian kami hanya mencapai 35% saja," papar Freddy kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Dikatakan, pihaknya berharap pada musim tanam tembakau tahun depan, cuaca bagus. Karena tahun ini pasti merupakan tahun keprihatinan bagi petani tembakau.
Karena tahun sebelumnya PT Gudang Garam justru membeli tembakau melebihi target 1600 ton menjadi 2.000 ton lebih, karena kualitasnya yang sangat bagus.
Sementara itu, data di Dinas Kehutanan Dan Perkebunan (Dishutbun) dari proyeksi lahan tembakau sebesar 14.366 hektare hanya sekitar diperkirakan 5.740 hektare saja yang ditanami tembakau oleh masyarakat.
Hal itu dikarenakan cuaca musim kemarau tahun ini buruk.
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-sumenep-tembakau-sumenep-tidak-laku_20161012_173054.jpg)