Breaking News:

Citizen Reporter

Ketika Hukuman Fisik Tak Lagi Relevan, Sekolah Kini Harus Ramah Anak

guru dan sekolah kini menerapkan atribut sekolah ramah anak.. bagaimana pelaksanaannya?

Editor: Tri Hatma Ningsih
istimewa
ilustrasi 

Reportase : Mulyanto
Staf SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya

BAGAIMANA reaksi orangtua jika putranya berulah di sekolah dan guru mengganjarnya dengan jeweran di telinga? Jawabannya mungkin bervariasi. Namun jawaban umum yaitu tidak terima atau kesal terhadap guru penjewer.

Kondisi ini berbeda dengan generasi terdahulu yang merasa tak masalah dengan hukuman mendidik yang diberikan guru karena paradigma saat itu adalah pendidikan kearifan melalui tempaan.

Itu yang disampaikan Dr Martadi MSn, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, dalam workshop dan seminar pendidikan Aplikasi Kurikulum 2013 di Pola Pembelajaran Gen-Z, Sabtu (8/10/2016) di auditorium TMB SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.

Martadi lebih dalam menyinggung sekolah ramah anak di hadapan 372 guru Muhammadiyah se-Jawa Timur. Menurutnya paradigma pendidikan harus bergeser, kini menghukum anak sudah tak relevan dengan kemajuan zaman.

Pendidikan yang kontekstual saat ini, ramah dan berpihak kepada anak. Sekolah ramah anak harus mengonstruk pola berpikir, atributnya, pelayanannya, dan mengedepankan tren agama sebagai basis gerakan pendidikan.

Selain itu, pola rekrutmen peserta didik baru harus direformasi. Pola rekrutmen siswa yaitu bagaimana orangtua calon siswa berkomitmen menyekolahkan anak. Orangtua harus hadir mendaftarkan, bukan hanya dilihat seberapa mahir anak membaca, tulis, dan hitung semata.

Bagaimana kondisi keluarga, anak ke berapa, dan siapa saja saudaranya, perlu juga diketahui. “Urusan ini harus diselesaikan dulu, baru  soal psikotes untuk mengetahui motorik halus dan konsentrasinya,” terang pria kelahiran Ngawi, 22 November 1966.

Itu penting sebagai proses awal membangun sekolah ramah anak, karena persoalan pendidikan tak melulu urusan transfer pengetahuan. Sebab pendidikan itu hakekatnya soal pembentukan karakter. Terlebih sekolah dasar yang notabene penanaman karakter pada anak.

Di proses belajar, guru harus memerhatikan komunikasi yang ramah, antarguru dan siswa, layout kelas, meja kursi, dan hiasan dinding. “Libatkan anak saat setting layout kelas,” sarannya.

Guru harus kreatif dan inovatif. Mengajar banyak murid boleh dengan langkah berbeda dengan tujuan yang sama. Pada prinsipnya, sekolah ramah anak adalah sekolah yang mengakomodasi anak.

Guru melayani sepenuh hati, dengan ramah dan penuh kesyukuran. Mengakomodasi bukan sepenuhnya, murid juga harus paham apa yang jadi hak dan kewajibannya.

Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya Edy Suanto, MPd. pada pidato pembuka mengatakan, workshop tersebut tujuannya untuk menebar manfaat kepada guru dan sekolah-sekolah di Jawa Timur, terkhusus Muhammadiyah.

Menurutnya, sekolah yang unggul harus berimbas pada sekolah lain. “Sekolah ramah anak ini harus dijiwai guru karena gurulah yang menanggung terciptanya generasi cemerlang, berbudi, hormat guru dan orangtua, dan cinta tanah air dan bangsa,” tukasnya.

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved