Berita Surabaya

Pasien Nyeri Kanker Perlu Tahu Pengobatan Neirolisis, Apa Itu? ini Jawabannya!

Herdy Sulistyono H, Spesialis Anastesi RSUD Dr Soetomo ikut menambahkan, tindakan intervensi atau neurolisis adalah menyuntik langsun ke sumber nyeri.

Pasien Nyeri Kanker Perlu Tahu Pengobatan Neirolisis, Apa Itu? ini Jawabannya!
surya/nuraini faiq
Kadinkes Surabaya Febria Rachmanita. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Meningkatnya jumlah pasien kanker beberapa tahun terakhir di Indonesia, membuat sejumlah rumah sakit terus melakukan perbaikan pelayanan. Salah satunya adalah penanganan rasa nyeri.

Ini juga sudah menjadi peraturan WHO bahwa setiap rumah sakit tidak boleh membiarkan pasien kanker merasakan nyeri, karena berkaitan dengan Hak Asasi Manusia.

Dokter Dedi Susilo, pemateri Penanganan Nyeri Kanker dengan Tindakan Intervensi pada acara seminar awam peringatan Hari Paliatif Sedunia, di RSUD Dr Soetomo menuturkan untuk itu penanganan kanker harus berdasarkan WHO Analgesic Ladder.

"WHO Analgesic Ledder ini ada 4 step. Pertama, obat antibiotik biasa untuk nyeri ringan, jika tidak mempan ditambah antibiotik lagi (codeine), apabila sakit nyeri masih ada maka masuk step ketiga pengobatan dengan morphin oral. Jika masih nyeri hebat maka masuk step keempat yaitu tindakan intervensi," terangnya, Sabtu (8/10/2016).

Herdy Sulistyono H, Spesialis Anastesi RSUD Dr Soetomo ikut menambahkan, tindakan intervensi atau neurolisis adalah menyuntik sumber nyeri langsung dengan batuan alat Radio Frekwensi dan C - ARM (X Ray yang biasa untuk rontgen).

Sebelumnya sudah banyak diterapkan di luar negeri, mengingat temuan ini sudah sejak tahun 90-an silam.
Sejumlah negara maju seperti Jerman, Jepang dan Belanda bahkan melakukan neurolisis langsung pada pasien yang mengalami nyeri kanker, tanpa 3 step sebelumnya.

Menurut Herdy alasan mendasarnya adalah karena tindakan intervensi atau neurolisis, cukup untuk menghilangkan rasa nyeri seumur hidup pasien kanker.

"Jadi cukup tindakan intervensi satu kali, pasien kanker tidak perlu minum obat lagi sumur hidup. Jadi hidup lebih berkualitas. Pasien minun morphin efeknya mual, kalau ini tidak ada efek semacam itu," tutur Herdy.

Di Indonesia ini masih belum bisa begitu (langsung tindakan intervensi), alasannya menurut dia, di rumah sakit swasta sudah ada tapi memang jarang.

"Nah di rumah sakit Dr Soetomo ini satu tahun terakhir sudah mulai diterapkan, tadi malam alat sinar X Ray-nya baru datang lagi," katanya saat ditemui Surya.co.id.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved