Berita Surabaya

Masyarakat Bisa Pelajari Penanganan Nyeri Kanker, Bagaimana Caranya? Ikuti Seminar ini

Masyarakat seringkali tidak mengetahui cara tepat meredam nyeri pasien kanker. Padahal 80 sampai 90 persen penderita kanker merasa nyeri.

Masyarakat Bisa Pelajari Penanganan Nyeri Kanker, Bagaimana Caranya? Ikuti Seminar ini
surya/sulvi sofiana
Dokter Urip Murtedjo SPB-KL (ketiga dari kiri) dalam sebuah acara. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Naiknya grafik penderita kanker di Indonesia tentu menjadi persoalan bersama. Baik tenaga medis maupun masyarakat.

Masyarakat seringkali tidak mengetahui cara tepat meredam nyeri pasien kanker. Padahal 80 sampai 90 persen penderita kanker merasa nyeri.

Dokter Agus Ali Fauzi, Kepala Poli Paliatif, RSUD Dr Soetomo Surabaya menyakinkan sebenarnya ada cara tepat, 90 persen menghilangkan rasa nyeri pasien kanker.

Bertepatan dengan Hari Paliatif Sedunia bertema Living and Dying in Pain : It Doesn't Have to Happen yang jatuh pada 8 Oktober 2016 nanti, Masyarakat Paliatif Indonesia (MPI) Cabang Surabaya mengajak masyarakat awam belajar cara menangani nyeri kanker tersebut.

Tak tanggung-tanggung semua kalangan, mulai 31 kecamatan, 154 kelurahan, 63 faskes I se Surabaya, 300 kader paliatif se Surabaya, 30 dari Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri, 5 pengurus Yayasan Paliatif Surabaya, 40 relawab Paliatif RSUD Dr Soetomo, 10 Dinas Kesehatan Kota Surabaya, hingga pemuka agama juga akan diundang.

"Kenapa kami mengundang camat dan kelurahan? Ini karena komitmen kami ingin Surabaya Bebas Nyeri Kanker. Karena sebenarnya yang paling dekat dengan penderita kanker adalah orang-orang ini, atau masyarakat sendiri. Meski tenaga medis juga mengambil bagian penting," terang dr Sunaryadi Tejawinata, saat acara press converence, Rabu (5/10/2016).

Dalam seminar awam "Peran Aktif Masyarakat dalam Penanganan Nyeri Kanker" digelar di Ruang Pertemuan Pusat Diagnostik Terpadu Lantai 7 pada Sabtu (8/10/2016), dr Urip Murtedjo menuturkan akan memberikan pengertian kepada masyarakat awam terkait sistem rujukan berjenjang.

Sekaligus cara penanganan nyeri kanker yang tepat seperti standart WHO.

"Nyeri kanker bisa diobati dengan program berjenjang. Awalnya memang harus obat biasa, kalau tidak bisa pakai morphin oral, tidak mempan lagi baru interfensi nyeri. Bagaimana caranya? nanti kami sampaikan pada acara workshop," jelas dr. Urip.

Karena mengundang sejumlah pejabat kecil, dr Urip mengungkapkan pihaknya mengupayakan agar di setiap kecamatan bahkan kelurahan, ada posko paliatif khusu penanganan nyeri kanker.

"Rasa nyerinya amat luar biasa. Untuk iku kami selalu berupaya keras bagaimana supaya pasien itu bisa sembuh dari nyeri, karena pada dasarnya membiarkan mereka merasakan nyeri itu melanggar HAM. Untuk itu kita harus tau bersama," tutupnya.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved