Selasa, 28 April 2026

Berita Surabaya

Wisata Kampung Nelayan Kenjeran, Belum Layak karena Bau Amis

Pemkot Surabaya sejak lama membenahi kampung nelayan ini, melalui pemberdayaan masyarakat pesisir.

surya/ahmad zaimul haq
Rumah di kampung nelayan kawasan Kenjeran, Surabaya yang di cat warna-warni, Rabu (28/9/2016). Pemkot Surabaya melakukan perombakan kampung nelayan di Surabaya agar tidak terkesan kumuh dan bisa dijaikan jujugan wisata. 

SURYA.co.id | SURABAYA- Perkampungan nelayan di Kenjeran, identik dengan gang sempit dan bau amis yang bisa tercium sepanjang hari. Apalagi, jika kondisi sedang hujan.

Indatul Mukarromah (25), merasakan betul kenyataan itu. Mengingat sejak kecil, ia tinggal di kawasan itu.

Karena itu, ia menganggap nelayan atau warga yang bekerja dari hasil laut perlu diedukasi terkait pengelolaan hasil laut yang baik, tanpa mencemari lingkungan.

“Sebenarnya setuju banget kalau mau dijadikan tempat wisata, pastinya perhatian pemerintah harus maksimal,” ungkap Indatul, pada Surya, Rabu (28/9/2016).

Bau amis di sekitar rumahnya, menurut dia, karena belum ada tempat jemur hasil olahan laut yang layak. Sehingga, masyarakat asal jemur di daerah yang padat penduduk.

Belum lagi banyaknya pedagang kaki lima yang menggelar dagangan sembarangan di sekitar jalan raya.

Ia menilai, kondisi itu menjadikan kawasan kampung nelayan belum layak jika dijadikan tempat wisata. Terlebih, untuk lokasi wisata bertaraf internasional.

“Fasilitas jalan dan penataan PKL-nya harus lebih diperhatikan dan dirapikan. Kalau memang ada tempat khusus untuk pedagang, harga sewa jangan terlalu mahal biar gak buka di pinggir jalan lagi,” lanjutnya.

Hal senada diungkapkan Iva Oktavia (21), warga Kenjeran Lama ini sangat mendukung jika perkampungannya menjadi tujuan wisata.

Tak sekadar tradisional, tetapi wisata modern dan layak dikunjungi. Hal ini tentu akan menambah pendapatan masyarakat lokal.

“Pengunjung juga harus sadar lingkungan, kalau sudah ditata bagus, tetapi yang datang jorok ya percuma juga,” tegasnya.

Kota Percontohan
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya Joestamadji mengakui, pemberdayaan kampung nelayan masih membutuhkan proses.

Pemkot Surabaya sendiri sudah sejak lama membenahi kampung nelayan ini, melalui pemberdayaan masyarakat pesisir.

Dari 10 kecamatan yang digarap dengan berbagai program unggulan, akunya, sudah ada empat kecamatan yang menjadi jujukan utama untuk studi banding, yaitu di Greges Asem Rowo, Bulak, Rungkut dan Gunung Anyar. (lihat tabel)

“Hingga saat ini, Pemkot terus mendorong masyarakat pesisir dengan pemberdayaan warganya. Harapannya, Surabaya menjadi kota percontohan kampung nelayan,” ujarnya, kepada Surya, Rabu (28/9/2016).

Pemberdayaan ini, sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional.

Tujuannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik nelayan, pembudidaya, pengolah maupun pemasar hasil perikanan, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan devisa.

"Semua kampung nelayan itu, konsepnya tentu saja tidak terlepas dari program Pemerintah Pusat, Pemprov, program Pemkot sendiri hingga lintas sektor. Karena nantinya akan saling berkaitan, meski setiap kampung nelayan mempunyai ciri khas yang berbeda," kata Joestamadji.

Ia mengungkapkan, kehidupan masyarakat pesisir selama ini masih dibawah garis kemiskinan.

Karena itu, perlu ada pembaharuan, tidak hanya dari Pemkot Surabaya saja, melainkan bekerjasama dengan swasta.

Contohnya, bila selama ini pemukiman di kampung nelayan terkenal kumuh, maka Pemkot Surabaya akan memperbaiki dengan merenovasi menjadi lebih layak dan bagus. Sedang, untuk warganya akan dibekali dengan pelatihan.

"Nanti disesuaikan program kementerian maupun dinas yang bisa diaplikasikan," paparnya.

Selain pemberdayaan melalui pelatihan, Pemkot juga memberi bantuan berupa subsidi bahan bakar minyak untuk 2.300 nelayan di 10 kecamatan. Ini untuk memudahkan para nelayan mencari ikan, kerang maupun udang.

Sedang fasilitas yang ada di kampung nelayan, lanjut Joestamadji, para wisatawan akan menjumpai tempat pengelolaan ikan, Balai Pelatihan dan sentra UMKM. (Sulvi Soviana/Rorry)

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved