Lipsus Retribusi Parkir Berlangganan

Ada Tarikan Retribusi Parkir, Jukir Akui sebagai Sumbangan Sukarela Pelanggan

Beberapa kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat terlihat membayar tiap mereka akan meninggalkan kawasan parkir tersebut.

Ada Tarikan Retribusi Parkir, Jukir Akui sebagai Sumbangan Sukarela Pelanggan
surya/bobby constantine kolloway
Kawasan parkir berlangganan di Jalan Gajahmada Sidoarjo. Meski sudah kena retribusi parkir berlangganan, tetapi di lapangan masih juga bayar parkir. Foto diambil Jumat (16/9/2016). 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Pemilik kendaraan masih saja membayar saat parkir, walaupun juru parkir tak meminta uang parkir.

Sehingga berpotensi terjadi double collection, baik parkir berlangganan maupun parkir saat di lapangan.

Samsul Arifin mengaku tak pernah meminta bayaran saat para pemilik kendaraan meninggalkan lokasi parkir yang dijaganya.
Namun, juru parkir resmi Dinas Perhubungan Sidoarjo ini tak pernah menampik, jika para pemilik kendaraan memberikan uang jasa parkir. Baginya, pemberian itu sebagai bentuk sukarela.

"Kecuali kalau saya dikasih. Masa saya tolak? Pemberian orang kan boleh-boleh saja diterima," ujar pria yang biasanya bertugas di ruas Jalan Gajah Mada, Sidoarjo tersebut.

Pria yang mengaku telah menjadi juru parkir di Sidoarjo sejak 1989 tersebut juga menyebut bahwa pekerjaannya juga diawasi perwakilan Dinas Perhubungan.

Oleh karena itu, tak mungkin dia dapat dengan leluasa menarik biaya parkir ke tiap pelanggan di wilayahnya tersebut.

"Saya bekerja diawasi Dinas Perhubungan. Jadi, taruhannya adalah pekerjaan. Dulu, ada yang pernah menarik biaya ke pelanggan. Setelah pelanggan tersebut lapor ke Dishub, jukir itu dipecat," cerita pria berusia 46 tahun tersebut.

Meskipun hanya mendapat dari sumbangan, Samsul mengaku mampu mengumpulkan penghasilan hingga Rp 50 ribu tiap harinya.
Menurutnya, selain didapat dari sumbangan sukarela, banyaknya pemasukan tersebut juga disebabkan adanya kendaraan dari daerah lain yang juga memarkir di wilayahnya.

Dengan ditambah gaji dari dinas perhubungan sebesar Rp 750 ribu tiap bulannya, dia mampu menyekolahkan dua putranya yang saat ini berada di kampung asalnya, Sumenep.

Putra sulungnya telah berada di bangku kelas menengah atas (SMA), dan putra keduanya berada di bangku SD.

Halaman
12
Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved