Berita Pendidikan Surabaya
Kadindik Jatim: SMK Tak Perlu Ujian Nasional, ini Pertimbangannya
“Kalau lulusan SMK didominasi ke industri, jadi butuh sertifikasi,”ujar Saiful Rahman.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Minat lulusan SMA dan SMK dalam dua tahun terakhir terhadap Ujian Nasional Perbaikan (UNP) masih kurang. Apalagi hasil UNP secara nasional menunjukkan hanya 32 persen atau 9.821 peserta SMA memperoleh hasil nilai di atas rata-rata.
Sedang peserta SMK yang nilainya di atas rata-rata hanya 23 persen atau 4.309, dan peserta ujian Paket C 53 persen atau 10 peserta.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Saiful Rahman beranggapan tidak memenuhinya nilai di atas 55 oleh peserta ujian merupakan hal wajar.
Apalagi jarak UNP terlalu jauh dari pelaksanaan Ujian Nasional (UN), sehingga kebanyakan peserta tidak mempersiapkan diri untuk belajar.
“Hasil UNP tidak perlu dievaluasi. Karena fluktuatif dan sesuai kehendak pesertanya tidak ada dampak dan urgensinya,”jelasnya, Minggu (18/9/2016).
Ia pun beranggapan UNP maupun UN tidak perlu dilaksanakan bagi SMK karena untuk SMK, lebih dibutuhkan sertifikasi profesi.
Sedangkan untuk SMA masih dibutuhkan UN, karena bisa diintegrasikan dengan perguruan tinggi.
“Karena lulusan SMA banyak yang melanjutkan ke pergurun tinggi. Jadi lebih baik kalau tetap pakai UN. Kalau lulusan SMK didominasi ke industri, jadi butuh sertifikasi,”lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kepala-dindik-jatim-saiful-rahman-tianjing-education-center-surabaya_20150526_195648.jpg)