Berita Kampus Surabaya

Serapan Lulusan Perguruan Tinggi Tergolong Rendah di Dunia Kerja

“Kebanyakan mahasiswa juga semakin rendah dalam berkomunikasi dan berpikir tingkat tinggi serta rendahnya kemampuan informasi dan teknologi.”

surya/ahmad amru muiz
ILUSTRASI PENCARI KERJA 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kemampuan lulusan perguruan tinggi (PT) saat ini masih kurang jika dibandingkan beberapa negara.

Bahkan hal ini berimbas pada rendahnya serapan tenaga kerja lulusan PT di dunia kerja.

Hal ini dipaparkan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof Intan Ahmad dalam pembukaan masa orientasi mahasiswa baru di Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya, Kamis (15/9/2016).

Ia menyatakan, lulusan PT di Indonesia masih memiliki lima kelemahan. Yaitu kemampuan Bahasa Inggris yang rendah, kemampuan kepemimpinan yang belum memadai, dan kecakapan organisasi yang belum mumpuni.

“Kebanyakan mahasiswa juga semakin rendah dalam berkomunikasi dan berpikir tingkat tinggi serta rendahnya kemampuan informasi dan teknologi,” lanjutnya.

Guru besar bidang biologi dari Fakultas MIPA, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga menjelaskan, negara-negara yang maju umumnya memiliki banyak PT berkualitas bagus ehingga kemampuan lulusannya dalam bersaing sangat tinggi.

Ia memaparkan, berdasarkan Data World Bank, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia adalah 27,83.

Jumlah ini relatif rendah dibandingkan Malaysia 39 persen, dan Thailand 51 persen. Padahal jumlah mahasiswa kurang lebih 7 juta yang tersebar di 23.581 Program Studi (Prodi).

Ia berharap, PT bisa memberikan kurikulum yang efektif bagi nilai output mahasiswa. Seperti melakukan rekayasa kurikulum KKNI untuk meningkatkan kemampuan literasi dan memasukkan kurikulum kewirausahaan.

“Agar makin sesuai kebutuhan pasar dan ketersediaan lulusan yang berkompeten.” tegasnya.

Ia mengapresiasi Unipa yang telah menyediakan laboratorium pendidikan. Bahkan tempat praktek untuk melayani masyarakat seperti poliklinik bidang keperawatan yang akan dibuka Unipa.

Sementara itu, rektor Unipa, Djoko Adi Walujo, mengungkapkan, dibukanya laboratorium untuk prodi keperawatan merupakan strategi pengembangan pendidikan.

Menurutnya, pengajaran dalam pendidikan tinggi tidak hanya dilakukan melalui seminar atau kegiatan kelas.

“Idealnya memang ada sarana untuk menerapkannya langsung pada masyarakat. Jadi sebelum terjun ke dunia kerja sudah terbiasa dengan pengamalan ilmunya,” tegasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved