Senin, 13 April 2026

Profil

Bebby Idhiani Nikita : Harus Ada Niat dan Kemauan untuk Berubah

Yang sulit adalah memberi pengertian pada mereka yang dasarnya punya perilaku malas untuk diajak ‘berubah’

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Titis Jati Permata
surya/achmad pramudito
Bebby Idhiani Nikita 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ditutupnya sejumlah lokalisasi di Surabaya, khususnya Dolly yang konon disebut sebagai paling besar di Asia Tenggara, ternyata tidak menjadi jawaban hilangnya prostitusi di kota metropolitan ini.

Terbukti petugas masih menemukan kegiatan esek-esek ini di beberapa titik di Kota Surabaya.

“Yang ditutup kan hanya yang besar-besar dan mudah terlihat. Pemkot belum menjangkau semua titik kegiatan yang jadi kegiatan prostitusi ini,” tegas Bebby Idhiani Nikita.

Sulung dari dua bersaudara ini meyakini masih banyak praktek pelacuran yang belum tersentuh aparat Pemkot Surabaya.

Bebby meyakini masih banyak lokalisasi kecil dan bertempat di pinggiran Surabaya yang tetap beroperasi.

Belum lagi salon atau pusat kebugaran pun ditengarai melakukan layanan plus-plus.
“Faktanya penutupan lokalisasi itu bukan solusi. Karena yang terpenting adalah setelah ditutup mereka melakukan apa?” begitu sergahnya.

Menurut Bebby, kalau pemkot memang berniat membubarkan lokalisasi, itu perlu waktu panjang dan tidak bisa dalam sekejap.

“Karena yang terpenting adalah menciptakan lapangan kerja baru buat mereka yang selama ini tahunya hanya ‘itu’,” ucap Sarjana Teknik Sipil dari ITS ini.

Sebelum menutup lokalisasi, lanjut Bebby, aparat terkait sebaiknya melakukan sosialisasi dan pendekatan psikologis kepada PSK dan mucikari.

“Yang sulit adalah memberi pengertian pada mereka yang dasarnya punya perilaku malas untuk diajak ‘berubah’,” katanya.

Namun, ditekankan Bebby, sikap malas itu bisa dilawan dengan memberi motivasi dan kemauan pada para PSK maupun mucikari.

“Intinya adalah niat dan kemauan. Siapa pun orangnya kalau tak punya kemauan yaa percuma saja, dia akan kembali ke perilaku yang lama itu” urai Bebby.

Gadis yang lahir di Surabaya, 18 Juni 1991 tak menepis merubah pola pikir para PSK dan mucikari bukanlah hal mudah.

“Merubah sesuatu yang sudah jadi ‘budaya’ memang tidak gampang. Itu pun perlu dukungan banyak pihak,” ucap perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai kontraktor ini.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved