Senin, 20 April 2026

Berita Musik

Gerald Situmorang Dedikasikan Album untuk Sebuah Studio Kenangan

Yang membuat rasa bahagia Gerald Situmorang kian besar, album tersebut sukses di peringkat teratas dalam kategori ‘Top Albums’.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Parmin
surya/ahmad pramudito
Salah satu aksi musisi Gerald Situmorang . 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setelah merilis single ‘Old Stories’, musisi Gerald Situmorang memastikan bahwa keseluruhan dari album solo bertajuk ‘Solitude’ sudah bisa dinikmati penikmati musik Tanah Air.

Album yang dikerjakannya sejak tahun 2014 ini bisa diperoleh dalam format digital melalui iTunes Store.

Tak hanya itu. Sejak Rabu (7/9/2016) album ‘Solitude’ ini juga ada di layanan musik streaming seperti Apple Music, Spotify, Amazon Music, Google Play, Deezer, Tidal dan Guvera.

Yang membuat rasa bahagia Gerald Situmorang kian besar, album tersebut sukses di peringkat teratas dalam kategori ‘Top Albums’.

“Tentu in jadi sebuah pertanda baik, karena ternyata album ‘Solitude’ berhasil jadi perhatian masyarakat,” ungkap musisi yang akrab disapa Gesit ini.

Gesit mulai bermain gitar pada usia 13 mengaku senang album solo perdananya itu bisa tuntas dan dinikmati semua orang. Selain itu, respons positif pun berdatangan dari keluarga, teman, serta teman-teman sesama musisi.

Tanggapan tak kalah meriah juga diungkapkan penikmat musik lewat jejaring media sosial.
“Mulai banyak pula yang menanyakan album fisik. Pasti akan saya hadirkan dalam waktu dekat ini,” ujar Gesit yang lahir di Jakarta, 31 Mei 1989.

Album ‘Solitude’ yang merangkum 12 lagu ini secara pribadi dia dedikasikan untuk sebuah ruangan yang memiliki ikatan emosional bagi dirinya.

“Proyek musik ini tercetus ketika saya mengetahui akan kehilangan sebuah tempat yang begitu memiliki pengaruh besar untuk saya pribadi,” ungkapnya.

Tempat yang dimaksud adalah sebuah studio yang memberikan banyak inspirasi bagi Gesit dalam bermusik yang ada di rumah salah satu sahabatnya, Marco Steffiano (drummer Barasuara) yang akan pindah rumah.

“Hampir semua proyek musik yang saya jalankan lahir dari ruangan itu dan entah mengapa aura, reverb dan sound yang dihasilkan ruangan itu selalu membuat saya pribadi merasa ada keunikan tersendiri,” ujarnya.

Gesit belajar musik pertama kali pada Armstrong Pitoi dari New Breeze selama tiga tahun,
Kemudian meningkatkan ketrampilan pada Nikita Dompas. Dari sosok inilah Gesit mulai tumbuh gairahnya akan musik jazz.

Setelah itu Gerald mengambil sesi privat di Institut Musik Daya dengan Dion Janapria selama satu semester.

Gerald juga berpartisipasi di Serambi Jazz Workshop bersama Florian Ross, Henning Sieverts, Wolfgang Haffner, dan Kai Bruckner. Ia juga sempat mengambil Masterclass dengan Indra Lesmana.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved