Berita Kampus Surabaya

Para Guru Besar di Surabaya Tanggapi Penghapusan Tunjangan jika Karya Tak Masuk Jurnal Internasional

#SURABAYA - "Untuk profesor kalau sampai akhir 2017 tidak produktif, akan diberhentikan tunjangan guru besarnya pada 2018," jelasnya.

pipit maulidiya
ARSIP - Prof Dr Ir Aulia Siti Aisjah MT saat jumpa pers, Jumat (2/9/2016) bersama dua guru besar lain yaitu Prof Dr Ir Kuswandi DEA, dan Prof Ir Muhammad Sigit Darnawan MEngSc PhD. Tiga profesor ini akan orasi ilmiah pada pengukuhan Guru Besar pada 7 September 2016. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengingatkan soal kinerja 5.109 guru besar di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Sumber Daya, IPTEK dan Dikti, Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, menegaskan, pemerintah tidak segan-segan mencabut tunjangan kehormatan guru besar bagi yang tidak produktif.

Menanggapi hal ini, guru besar bidang Pertanian sekaligus Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Prof Dr It Teguh Soedarto MP menegaskan hal ini merupakan hal yang bisa dilaksanakan setiap guru besar. Karena sebagai dosen yang mendapat gelar guru besar, pastinya juga melaksanakan tridharma perguruan tinggi.

“Kalau membuat karya setiap tahun juga harus buat. Baik berupa buku, jurnal dan bahan ajar,” jelasnya ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Minggu (4/9/2016).

Namun, menurutnya selama ini karya banyak dipublikasikan secara nasional. Meskipun ada sejumlah karya dosen baik guru besar atau bukan yang dipublikasikan secara internasional dan terindeks scopus.

“Kendalanya ya harus antri, bisa saja tahun ini guru besar mendaftarkan satu karya. Sudah di-submit, tetapi belum tentu bisa dipublikasikan tahun ini, karena peminatnya banyak,” lanjutnya.

Jadi bukan karena tidak ada niatan dari guru besar, tetapi memang prosesnya yang lama.

Dengan 7 guru besar di kampus bela negara ini, menurutnya bukan suatu halangan dalam mempublikasikan karyanya. Apalagi jika dosen dalam penelitian, maka beban ajarnya disesuaikan.

“Dalam perguruan tinggi ada keseimbingan, antara penelitian dan pendidikan pengajaran. Masalah pembiayaan juga kami dukung,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Mohammad Nasih SE MT CMA Ak menjelaskan publikasi internasional bukan hal yang sulit. Apalagi pihaknya masuk di jajaran PTN dengan banyak karya yang terindeks scopus.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved