Breaking News:

Berita Kampus Surabaya

Selama Perkuliahan Mahasiswa Minimal Sekali Ke Luar Negeri

“Mahasiswa punya kemampuan dan kualitas, tetapi harus dibiasakan. Seperti saya dulu tidak terbiasa, tetapi sekarang dalam sehari bisa di Singapura, Ba

surya/Habiburahman
Dirjen Dikti Ali Ghufron Mukti (berdasi) membahas peluang beasiswa studi lanjut di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (6/8/2016). Pada kesempatan ini Ali Ghufron selain membahas kulitas dosen juga menyinggung sedikitnya karya tulis dari kalangan Sarjana maupun profesor di Indonesia. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Era globalisasi saat ini, pasar tenaga kerja tidak mengenal adanya batas wilayah. Apalagi saat ini Indonesia sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementrian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi(Kemenristekdikti), Ali Ghufron mengatakan, pihaknya akan mendorong perkuliahan agar universitas bisa mengenalkan mahasiswa pada peluang ke luar negeri.

“Hal ini harus didukung dengan program masuk kurikulum juga. Jadi bisa real, kalau saya sebagai dosen harus bisa menjelaskan keunggulan dan kelemahan berbagai negara sesuai jurusannya. Dan sudah harus pernah disana,”terangnya dalam pengukuhan 1.013 mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) di ICBC Square Ballrom, Sabtu (3/9/2016).

Dikatakannya, penduduk ASEAN yang jumlahnya sekitar 600 juta jiwa bebas keluar masuk negara sesama anggota ASEAN.

Khususnya pada delapan bidang profesi yang sudah diatur dalam Mutual Recognition Agreement (MRA), yaitu insinyur, arsitek, tenaga survei, dokter, dokter gigi, perawat, akuntan, dan tenaga pariwisata.

Untuk menghadapi hal tersebut, Menristekdikti mendorong civitas akademika untuk meningkatkan kualitas serta kompetensi sesuai dengan bidang masing-masing.

“Anda harus mampu bersaing di kelas global. Jangan cari kerja di Surabaya, atau Jawa Timur saja setelah lulus, bisa juga ke luar negeri seperti Singapura atau Jepang,” ungkapnya.

Menurut Ali, kualitas dan kompetensi sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan negara lain.

Namun, keberanian mahasiswa untuk melangkah keluar negeri masih rendah. Padahal banyak warga Indonesia yang telah sukses di negara-negara ASEAN bahkan dunia.

“Mahasiswa punya kemampuan dan kualitas, tetapi harus dibiasakan. Seperti saya dulu tidak terbiasa, tetapi sekarang dalam sehari bisa di Singapura, Batam dna Jakarta sudah biasa,’’ tegasnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Sementara itu, rektor Unusa, Achmad Jazidie menjelaskan program pengiriman mahasiswa keluar negeri telah dilakukan sejak tahun lalu.

Hal ini dengan adanya kerjasama dengan universitas di Singapura dan Thailand serta rumah sakit di Saudi Arabia.

“ Sisi kurikulum, kami sudah kombinasi dengan kurikukum intern, sehingga takbhanya belajar di luar negeri tetapi juga memiliki peluabg kerja disana khususnya bidang keperawatan dna kebidanan,”ungkapnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Kendala utama dalam penerapan kurikulum ini menurutnya pada kemampuan bahasa asing.

Untum itu mulai tahun lalu ada Unusa Language Center. Sebagai sarana oembelajaran bahasa asing bagi mahasiswa Unusa.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved