Minggu, 26 April 2026

Reportase dari Belanda

Mencicipi Malang Tempo Dulu di Pasar Tong Tong Belanda

komposisi jazz Lud van Zele mengalun lincah, menyuguhkan kembali suasana Sociëteit Concordia Malang medio 1938 yang kini menjadi pertokoan Sarinah

Editor: Tri Hatma Ningsih
tropen museum/ong kian bie 1922
Sociëteit Concordia Malang 

Reportase : FX Domini BB Hera
Penerima Beasiswa Penelitian Tesis FIB UGM 2016

MONITOR interaktif menayangkan foto lawas sebuah bangunan putih. Tampaknya tidak asing. Eureka! Itu Hotel Shalimar yang sebelumnya Hotel Graha Cakra eks RRI Malang yang terletak di belakang Gereja Ijen.  

Foto itu bertarikh awal abad ke-20 saat masih berfungsi sebagai Loji Tarekat Mason Bebas. Dua jangka saling terbalik menyerupai huruf A menjadi penanda besar pada bangunan itu.

Di layar foto berganti dengan foto loji lain di Kota Malang. Loji Sirius. Layar terus bergeser pada gambar loji-loji Tarekat Mason Bebas di kota-kota Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda.

Pemandangan ini dapat dinikmati di gerai Tarekat Mason Bebas di Pasar Tongtong, Malieveld, Den Haag, 28 Mei hingga 5 Juni 2016 silam.  Gerai itu mengambil tajuk Vrijmetselarij van Den Haag tot Java (Tarekat Mason Bebas dari Den Haag hingga Jawa).

Konspirasi dan kontroversi merupakan wacana dominan bagi  publik Indonesia tentang organisasi ini. Sayang, publik Indonesia belum banyak mendapatkan karya sejarah seputar tarekat yang dibubarkan sekaligus dilarang oleh Presiden Sukarno ini.

Raden Saleh Syarief Bustaman, pelukis dan intelektual legendaris abad ke-19, merupakan anggota pertama dari golongan non Eropa Hindia Belanda. Selanjutnya kaum ningrat dan pejabat bumiputera banyak bergabung dalam organisasi khusus laki-laki ini.

Setiap hari Pasar Tong Tong dipenuhi pertunjukan, warung, hingga berbagai gerai khas Indonesia tempo doeloe. Perhelatan yang diadakan sejak 1959 ini awalnya sebatas tombo kangen masyarakat Indo, pribumi, China maupun Eropa lainnya yang mukim di Belanda karena meninggalkan Indonesia, baik yang terusir maupun memilih pergi.

Satu acara menarik di ruang teater Tong Tong ialah ceramah antropolog cum pianis Henk Mak van Dijk, 3 Juni 2016. It don’t mean a thing, if it ain’t got that: Jazz in Nederland Indië, Een zoektocht merupakan judul ceramah yang menggoda.

 Terlintas dalam benak bagaimana nenek moyang musik jazz yang kini lestari di tanah air akan disajikan. Jazz berkembang di Nusantara sejak 1919. Jazz memenuhi lini massa melalui iklan konser di koran, latar musik film Hollywood yang diputar di bioskop, toko musik, membahana via radio, pertunjukkan di hotel-hotel ternama dan societeit (gedung tempat sosialita berkumpul).

Deretan nama band jazz Hindia Belanda seperti Brown Sugar Babies, de Silver Kings , de Musketeers of Swing, de Melody Makers, of Samethini and His Spirituals menjadi hits pada masa itu.

Disusul sejumlah nama musisi jazz kondang seperti Charlie Overbeek Bloem, Harry Braun, Vic Siegers dan Otto Mackenzie, Lim Bersaudara, Elia dan Karsseboom Bersaudara, Dick van der Capellen, Han Samethini, dan Lud van Zele yang berwajah Indo.

Khusus nama terakhir, Henk menutup ceramahnya dengan memainkan piano komposisi jazz Lud van Zele yang pernah dipentaskan di Sociëteit Concordia (kini pertokoan Sarinah), Malang tahun 1938. Riang dan lincah terasa di telinga.

 


Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved