Berita Kampus Surabaya

Unair Tambah Tiga Guru Besar bidang Antropologi, Inseminasi Buatan, dan Penyakit Dalam

“Sangat menggembirakan saya bisa melihat bimbingan saya menjadi guru besar,”jelas Prof Dr Habil Jozef Glinka SVD.

surya/sulvi sofiana
Tiga guru besar saat pengukuhan pada Sabtu (27/8/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Universitas Airlangga kembali mengukuhkan tiga guru besar baru pada Sabtu (27/8/2016).

Ketiga guru besar ini yaitu Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD,guru besar bidang Ilmu Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Prof Dr drh Suherni Susilowati MKes sebagau guru besar bidang Ilmu Inseminasi Buatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Prof Dr drh I Komang Wiarsa Sardjana sebagai guru besar bidang Ilmu Penyakit Dalam dan Bedah Veteriner FKH.

Prosesi pengukuhan dihadiri oleh Ketua dan Anggota Senat Akademik, para Guru Besar, Pimpinan Universitas, Fakultas, Program Pascasarjana, Direktur Direktorat, Ketua Lembaga, Badan, Pusat, Para dosen dan karyawan di lingkungan Unair.

Salah satu guru besar yang hadir yaitu Prof Dr Habil Jozef Glinka SVD. Pri 84 tahun tersebut mengungkapkan rasa bangganya melihat bimbingannya, Prof Myrtati yang mendapat gelarnya di usia kurang dari 50 tahun. Berbeda dengan masanya yabn gelar guru besar baru bisa di dapat menjelang usia pensiun.

“Hari ini, 51 tahun yang lalu saya juga baru saja mendarat di Jakarta. Sangat menggembirakan saya bisa melihat bimbingan saya menjadi guru besar,”jelasnya usai melihat prosesi pengukuhan di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus C Unair.

Pastor yang juga guru besar Antropologi Unair ini juga menunjukkan ketertarikannya pada pidato yang disampaikan bimbingannya.

Yaitu terkait pernikahan endogami yang ada dalam masyarakat Indonesai. Meskipun melestarikan etnis satu golongan, menurutnya pernikahan endogami dapat menghasilkan keturunan yang rentan kelainan tak terlihat pada anak.

Sementara itu Prof Myrta menyampaikan pidato dengan judul “Identifikasi Individu Tak Beridentitas di Indonesia”.

Selain itu Prof Suherni menyampaikan pidato dengan judul “Potensi Frozen Semen pada Kawin Suntik Kambing Sebagai Upaya Memenuhi Kebutuhan Protein Hewani”.

Sedangkan pidato Prof Komang berjudul “Menuju Swasembada Daging di Indonesia dengan Tes Progesteron Paper Strip”.

Prof Myrta menyampaikan bahwa bangsa Indonesia memiliki kekhasan dari aspek genetika akibat masih banyaknya perkawinan endogami.

“Perkawinan endogami adalah perkawinan dengan orang segolongan, entah itu etnis yang sama, daerah yang sama, dan lebih banyak lagi, agama yang sama. Karena bunyi sila kesatu Pancasila, itu cukup berdampak pada kekhasan di Indonesia,” ungkapnya

Akibat perkawinan endogami itu, lanjutnya, identifikasi individu tak beridentitas tak begitu mengalami kendala. Hal ini berbeda dengan aspek genetika dari luar negeri yang sudah banyak melakukan kawin campur.

Sedang Rektor Unair, Prof Moh Nasih mengatakan, dengan dikukuhkan tiga guru besar dapat menambah SDM berkualitas dan khasanah ilmu pengetahuan yang semain bertambah.

“Ketiga naskah pidato Pengukuhan Guru Besar ini menjadi salah satu karya akademik di lingkungan Universitas Airlangga. Sebagai sebuah karya akademik, maka keberadaannya bisa digunakan untuk beragam keperluan semisal sebagai referensi bagi akademisi lainnya,” kata Prof Nasih.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved