Breaking News:

Berita Surabaya

Pakar Bahan Bakar: Sampah Bermanfaat untuk Tenaga Alternatif meski Timbulkan Masalah Lingkungan

“Yang di Benowo sistemnya fermentrasi. Lahan dibuka lebar, sampah ditimbun, dikasih tanah, nah di bawah sampah ini ada pipa untuk saluran gas methane.

surya/sulvi sofiana
Pakar Bahan Bakar Alternatif ITS, Dr Bambang Sudarmanto 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gagasan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menghasilkan listrik dengan mengolah sampah di TPA Benowo merupakan langkah tepat dalam pengelolaan sampah.

Hal ini dikatakan pakar bahan bakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), apalagi daya listrik yang dikeluarkan dari sumber gas methane dari fermentasi sampah mencapai 1,8 sampai 2 megawatt.

“Sampah memang bisa menimbulkan masalah lingkungan. Nah ini bisa dimanfaatkan untuk tenaga alternatif, jelas sangat positif. Apalagi hasilnya sudah besar 1 mega itu. Kalau pembangkit kecil saja cuma bisa puluhan watt atau kilowatt,” tuturnya ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Senin (15/8/2016).

Namun, menurut Kepala Program Studi Teknik Mesin ini permasalahan sistem yang digunakan ini yaitu pada jenis sampah.

Dikatakannya jenis sampah itu heterogen,komponennya berubah tiap hari. Belum lagi, musim penghujan dan kemarau berubah juga dapat mengubah komposisinya.

Hal ini berakibat pada proses fermentasi sampah dalam menghasilkan gas methane. Gas ini yang dijadikan sumber energi untuk menghasilkan listrik.

“Yang di Benowo sistemnya fermentrasi. Lahan dibuka lebar, sampah ditimbun, dikasih tanah, nah di bawah sampah ini ada pipa untuk saluran gas methane. Nah kalau komposisinya beda proses fermentasinya tidak bisa stabil,” ujarnya.

Gas Methane, lanjutnya dapat banyak dihasilkan jika sebagian besar sampah merupakan sampah organik. Selain itu sistem fermentasi juga membutuhkan waktu yang lama dan lahan yang luas.

“Fermentasi itu susah ditingkatkan, apalagi komposisi sampah berubah-ubah jadi mempengaruhi hasil gas Methane. Kalau alat menghasilkan listrik itu sudah ketentuannya memang manghasilkan listrik dengan besaran yang ditentukan,”ungkapnya.

Untik situasi Surabaya yang menghasilkan banyak sampah, menurutnya sistem penghasil energi tidak hanya bisa dilakukan di Benowo. Tetapi juga dari berbagai TPA disetiap kecamatan.

Seperti TPA di Wonorejo Rubgkut yabg menggunakan sistem gasifikasi. Gasifikasi merupakan proses perubahan bahan bakar padat secara termokimia menjadi gas.

“Gasifikasi ini juga yang kami kembangkan di kampus. Jika sistem fermentasi butuh lahan luas, sistem gasifikasi lebih butuh suhu panas yang tinggi di awal proses,”lanjutnya.

Sistem ini, lanjutnya diproses dengan memproses sampah dengan menimbunnya bersama tanah sebagai sumber panas. Sehingga akan terjadi proses thermal atau pemanasan dan menghasilkan gas.

“Kecepatannya 10 kali dalam menghaislkan gas dibandingkan prosea fermentasi. Meskipun kandungan gasnya berbeda. Kalau fermentasi 70 persennya gas methane, kalau gasifikasi hasil gasnya lenib heterogen,”tuturnya.

Dengan perbedaan gas ini, menurutnya tidak mempengaruhi kerja alat dalam menghasilkan listrik. Dan hal ini bisa diterapkan disemua TPA di kecamatan.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved