Berita Kampus Surabaya

Manajer Luxury Brand Italia Ajak Mahasiswa UK Petra Peduli Lingkungan Sekitar, begini Konsepnya

Sesuai dengan tema, diskusi singkat itu menjelaskan seputar tanggung jawab sebuah industri terhadap kualitas produk.

Manajer Luxury Brand Italia Ajak Mahasiswa UK Petra Peduli Lingkungan Sekitar, begini Konsepnya
surya/pipit maulidiyah
Rossella Ravlagi, CSR Manager salah satu brand Luxury dari Italia saat paparan di depan mahasiswa Teknik Industri Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Senin (15/8/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Rossella Ravlagi, CSR Manager salah satu Luxury Brand dari Italy berdiri tegap di depan 200 mahasiswa Teknik Industri Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya.

Perempuan berambut pendek itu sedang mengisi diskusi bertema "Sustainability dan Responsibility" atau berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Sesuai dengan tema, diskusi singkat itu menjelaskan seputar tanggung jawab sebuah industri terhadap kualitas produk. Mulai produk itu sendiri hingga semua hal yang terkait dalam produksinya, seperti, pekerjanya hingga bahan yang digunakan.

Dosen Tenik Industri UK Petra Felecia mengakui kedatangan Rosella bermanfaat untuk membekali mahasiswa Teknik Produksi mengerti, produk seperti apa yang harus mereka buat nantinya.

"Awalnya Rossella datang ke Indonesia untuk membantu saya membangun bisnis aksesori fesyen, milik saya dan seorang teman. Saya pikir ini akan bermanfaat juga untuk anak didik saya di kampus," aku Felecia di tengah diskusi, Senin (15/8/2016).

Felecia melanjutkan konsep produksi luxury brand kini agaknya patut dicontoh. Ini karena mereka menciptakan produk tak sekadar melihat keuntungan tapi juga peduli lingkungan sekitar.

"Ini memang lebih ke program CSR-nya mereka. Salah satunya mereka memproduksi tas dengan bahan baku ular Piton di Indonesia," ujar Felecia.

Sedang Rossella mengakui mereka melakukan seleksi ketat terkait distributor ular tersebut. Apakah ini legal, ataukah ini akan merusak populasi ular di Indonesia, sampai siapa yang mencari dan mengolah kulit ular tersebut sehingga siap olah.

"Apakah pekerjanya seorang anak-anak, atau perempuan," terangnya.

William Hansel, mahasiswa Jurusan Teknik Industri, sekaligus panitia acara menuturkan diskusi semacam ini membantu Mahasiswa Teknik industri tak hanya memikirkan untung dari sebuah produk, tapi juga bermanfaat untuk sosialnya.

"Ini sangat membantu kami, sebagai mahasiswa teknik industri. Kami dituntun untuk lebih bertanggung jawab secara sosial. Salah satu konsentrasi mereka dalam hal produksi juga memberdayakan dan mengangkat derajat perempuan, dan industri di Indonesia menurut saya belum banyak yang melakukan hal itu," katanya.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved