Berita Surabaya

Tips Melatih Kemampuan Membaca Balita Tanpa Ada Paksaan

“Ada banyak cara menarik, tapi yang terpenting adalah tidak dengan cara memaksa tapi pengenalan supaya anak tertarik,” lanjut Shinta.

Tips Melatih Kemampuan Membaca Balita Tanpa Ada Paksaan
Surya/Neneng Uswatun Hasanah
Perayaan ulang tahun pertama bayi kembar lima, Senin (20/6/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Balita adalah usia ketika cara berpikir anak masih sangat sederhana.

Untuk melatih kemampuan dasar, balita harus dibuat tertarik bukan dengan cara dipaksa. Salah satu kemampuan dasar yang penting adalah membaca.

Agar anak usia balita tertarik dengan membaca, tentu orangtua harus mengenalkannya dengan cara yang menyenangkan dan tidak terlampau rumit.

Menurut Psikolog anak, Shinta Oktaviani SPsi Psikolog, metode yang baik untuk melatih adalah dengan membacakan cerita pada anak.

Dengan dibacakan cerita, kemampuan verbal anak lama-kelamaan akan semakin baik. Begitu pula dengan kemampuan bahasa dan kosakata yang didapatkan dari cerita yang mereka dengar.

Selain membacakan cerita yang menarik, orangtua dan guru juga bisa sering-sering mengajak anak mengobrol sehingga ia belajar untuk mengenal kosakata dan kalimat.

Anak usia balita, lebih cenderung untuk menghafal kosakata yang sering mereka lihat, misalnya tulisan ‘dorong’ pada pintu.

Mereka akan menghafal kata dorong dari pemahaman secara praktik meski belum memiliki kemampuan untuk membaca. “Kosakata tersebut akan masuk ke dalam memori mereka. Tugas orangtua adalah mengajak anak membacanya dengan cara dan ejaan yang benar,” ujar Pengelola Kelompok Bermain Sanggar Kreativitas Universitas Surabaya (Ubaya) itu.

Kemampuan membaca juga bisa dilatih dengan mengenalkan huruf lewat logo-logo merek yang ada di sekitar, ataupun dengan kartu permainan.

“Ada banyak cara menarik, tapi yang terpenting adalah tidak dengan cara memaksa tapi pengenalan supaya anak tertarik,” lanjut Shinta.

Kemampuan membaca memang butuh banyak latihan, namun anak yang gemar membaca akan kaya wawasan yang dapat membantu dalam pendidikannya selanjutnya.

Shinta mengatakan, ketika orangtua rajin membacakan cerita atau mengajak anak mengobrol dan berdiskusi, kemampuan verbal anak akan terasah dan rasa ingin tahunya akan semakin besar sehingga anak cenderung akan mencari jawaban keingintahuannya dengan membaca.

“Anak yang selalu ingin tahu tentunya lebih cerdas karena mereka akan berusaha mencari jawabannya dengan membaca,” katanya.

Belum lagi, saat ini banyak anak yang sudah tidak lagi gemar membaca karena sudah dibiasakan dengan gadget.

Orangtua dan guru harus terus proaktif agar anak tidak kecanduan gadget dan merangsang rasa ingin tahu lewat diskusi menyenangkan.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved