Breaking News:

Berita Kampus Surabaya

Kemampuan Bahasa Inggris Dosen Kurang, Banyak Dosen Yang Tidak Lolos Beasiswa

“Tahun ini sedang ada 2 dosen yang kami biayai untuk S3, kalau yang sudah S3 sudah 10 persen dari 230 dosen kami,” jelasnya kepada Surya (TRIBUNnews.c

surya/Habiburahman
Dirjen Dikti Ali Ghufron Mukti (berdasi) membahas peluang beasiswa studi lanjut di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (6/8/2016). Pada kesempatan ini Ali Ghufron selain membahas kulitas dosen juga menyinggung sedikitnya karya tulis dari kalangan Sarjana maupun profesor di Indonesia. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Peningkatan kualitas dosen terus digalakkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Hal ini dilakukan dengan memebrikan beasiswa pasca sarjana dengan kerjasama LPDP. Sebanyak 53.031 dari 230.633 dosen di Indonesia masih berpendidikan Strata 1 atau Diploma 4.
Padahal untuk mengajar S 1, kemenristek telah mewajibkan dosen minimal yaitu S2.

Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat dosen menjadi faktor penting dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

Direktur Jenderal Sumber Daya, IPTEK dan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti, Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka sulit melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.

Meskipun Kemeristekdikti telah memberikan beasiswa. Kuota yanga da belum mamapu menutupi kebutuhan pedidikan lanjutan dosen.

Seperti pada kuota Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) dalam negeri yang hanya 2.300 sedangkan pendaftarannya sudah mencapai lebih dari 7 ribu dosen. Di samping itu, tidak semua Perguruan Tinggi (PT) menyediakan beasiswa untuk dosennya.

“Kesulitan berikutnya adalah kemampuan bahasa Inggris yang biasanya dilakukan tes terlebih dahulu,” tuturnya dalam kuliah tamu ‘Strategi Pemanfaatan Peluang Beasiswa Studi Lanjut Untuk Peningkatan SDM di Perguruan Tinggi’ yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS)kepada Surya (TRIBUNnews.com Network), Sabtu (6/8/2016).

Selanjutnya, dikatakannya beberapa dosen juga pernah gagal pada tes potensi akademik (TPA). Mereka seringkali memperoleh nilai rendah sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk melanjutkan studinya.

Untuk bisa menghadapi hal tersebut, menurutnya universitas juga perlu mendorong dan terlibat dalam hal ini. Pihaknya juga mengklaim telah melaksanakan program Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

“Pelatihan penulisan dalam bahasa Inggris dan pemberian prior recognition by learning (pengakuan pembelajaran lampau) bagi dosen-dosen,” tegasnya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved