Breaking News:

Peristiwa Surabaya

Mahkamah Agung Tolak Permohonan Para Pembunuh Disc Jockey di Surabaya, Ini Konsekuensinya

Konsekuensi penolakan permohonan ini adalah Bayu tetap mendekam di penjara selama 12 tahun, sedangkan Rizky Topan mendekam di penjara selama 13 tahun.

Penulis: Zainuddin | Editor: Yuli
surya/m taufik
Proses rekonstruksi pembunuhan DJ Aditya Wahyu Budi Hartanto di Jalan Bung Tomo Surabaya, Kamis (11/6/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Harapan Bayu Gunawan dan Rizky Topan mendapat hukuman lebih ringan melalui kasasi kandas.

Majelis hakim di tingkat kasasi Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan dua pembunuh disc jockey (DJ) Aditya Wahyu Budi Hartanto ini.

Majelis hakim yang menyidangkan perkara ini adalah Margono, Edy Army, dan Sofyan Sitompul.

Dalam putusan tertanggal 14 Juli 2016, majelis hakim menolak permohonan dua terdakwa tersebut.

Konsekuensi penolakan permohonan ini adalah Bayu tetap mendekam di penjara selama 12 tahun, sedangkan Rizky Topan mendekam di penjara selama 13 tahun.

Vonis ini sesuai vonis yang dijatuhkan majelis hakim dalam sidang di tingkat banding. Vonis ini juga lebih berat di tingkat pertama.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Bayu divonis penjara selama tujuh tahun. Sedangkan Rizky Topan divonis penjara selama 10 tahun.

Humas PN Surabaya, Efran Basuning mengakui telah mendengar informasi tersebut. Sebab, Mahkamah Agung (MA) telah mengumumkan hasil kasasi untuk kedua tersangka.

"Kami belum menerima salinannya. Jadi saya tidak tahu apa saja pertimbangan majelis hakim menolak permohonan tersebut," kata Efran, Minggu (31/7/2016).

Dikonfirmasi terpisah, kuasa hukum terdakwa, Advent Dio Rendy mengaku belum mendengar informasi ini. Pihaknya baru mendengar informasi penolakan kasasi ini saat dikonfirmasi wartawan. Pihaknya masih menunggu salinan putusan kasasi tersebut.

Menurutnya, apapun hasil putusan kasasi akan disampaikan kepada keluarga terdakwa. Pihaknya belum bisa menentukan sikap terkait penolakan permohonan itu.

"Setelah kordinasi dengan keluarga, baru bisa menentukan sikap," kata Dio.

Pembunuhan ini terjadi di Jalan Bung Tomo. Pembunuhan ini bermula dari mobil yang dikemudikan DJ Aditya menyerempet kerumunan remaja yang akan balapan liar.

Bukannya berhenti, DJ Aditya langsung tancap gas. Puluhan remaja itu langsung mengejar mobil yang dikemudikan DJ Aditya. Mobil warna merah ini menabrak pohon perindang di Jalan Bung Tomo.

Puluhan remaja itu langsung merusak mobil DJ Aditya. Warga Sidoarjo yang sedang luka parah ini juga diseret keluar mobil. DJ Aditya meninggal dunia setelah puluhan remaja itu meninggalkan lokasi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved