Pendidikan Surabaya

Kurikulum Sekolah Seharusnya Bisa Untuk Disleksia

Kalau guru paham, setidaknya bisa memberikan yang terbaik dan memaklumi hal itu," ujarnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Kurikulum Sekolah Seharusnya Bisa Untuk Disleksia
surya/Pipit Maulidiya
Sejumlah orangtua dan guru di Surabaya mengikuti diskusi Temui Kenali Gejala Disleksia Sejak dini di Balai Pemuda Minggu, (31/7/2016) kerjasama Darma Wanita Surabaya dengan Dyslexia Parent Support Group. 

SURYA.co.id |SURABAYA - Gangguan kemampuan membaca dan menulis atau disleksia agaknya perlu diperhatikan dan dipahami setiap orang tua, maupun guru di sekolah.

Mengingat anak dengan disleksia rentan dibully teman seumurnya.

Tak hanya orangtua dan guru, pemerintah juga memiliki peran penting untuk kelangsungan belajar anak disleksia.

Mengingat data Kristiantini Dewi, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia menunjukkan 10 sampai 17 % penduduk Indonesia adalah disleksia yang perlu diperhatikan.

Menanggapi hal ini dokter Ursula Yudith, Ketua DPSG (Dyslexia Parent Support Group) jawa Timur menegaskan bentuk perhatian pemerintah itu bisa dengan membuat kurikulum yang pas dan tepat.

"Sebenarnya anak murni disleksia (tidak kompleks dengan komorbit atau ADHD) ini bisa belajar dengan teman seumuran mereka. Gangguannya hanya telat dalam membaca dan bicara. Sementara kurikulum kita hari ini sangat penuh tekanan, seperti CALISTUNG (baca, tulis, berhitung). Anak kelas satu harus bisa baca, harus bisa menulis, harus bisa berhitung. Dan ini sangat berat untuk disleksia. Jadi memang harus diperhatikan kurikulum itu," ujarnya usai diskusi Temui Kenali Gejala Disleksia Sejak dini di Balai Pemuda Minggu kepada Surya (TRIBUNnews.com Network), (31/7/2016).

Siti Fatimah guru TK Surabayan, kecamatan Tegalsari Surabaya ikut berkomentar meski di TK tempat ia mengajar belum diketahui pasti anak dengan disleksia, dia mengaku ingin tahu bagaimana cara menangani anak disleksia.

"Ada beberapa yang telat membaca, tapi kan kami belum pasti tau dia disleksia atau bukan. Makanya saya sempat tanya-tanya soal itu. Kalau guru paham, setidaknya bisa memberikan yang terbaik dan memaklumi hal itu," ujarnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Ursula melanjutkan dengan kondisi kurikulum seperti ini, dirinya menyarankan agar orangtua dan guru bekerjasama, jangan sampai anak dicap bodoh dan malas.

Terutama guru di sekolah, harus sabar menuntun anak didik mereka yang disleksia.

"Paling tidak kita mulai dari hal kecil yaitu memahami disleksia. Sekolah juga seharusnya flexible dengan para disleksia, dengan menyediakan akomodasi dan remediasi. Ketika anak tidak paham, guru sabar mengulang," tambahnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved