Berita Bangkalan

Orang Tua Enggan Imunisasi, Ratusan Bayi di Bangkalan IDL nya Terhambat

Di tengah riuh kasus vaksin palsu, sejumlah orang tua di beberapa desa di Kabupaten Bangkalan malah enggan bayinya diimunisasi.

Orang Tua Enggan Imunisasi, Ratusan Bayi di Bangkalan IDL nya Terhambat
surya/ahmad zaimul haq
Ilustrasi, seorang balita mendapat imunisasi polio di Puskesmas Pulo Sawah, Surabaya, 8 Maret 2016. 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Di tengah riuh kasus vaksin palsu, sejumlah orang tua di beberapa desa di Kabupaten Bangkalan malah enggan bayinya diimunisasi.

Hal ini mengakibatkan pemenuhan kebutuhan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) bayi terhambat atau Drop Out Follow Up (DOFU).

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangkalan, dari tujuh puskesmas yang telah mengirimkan data DOFU by name by addres, sekitar 600 bayi dan anak bawah tiga tahun (batita) IDL nya terhambat.

Tujuh puskesmas tersebut yakni Puskemas Konang, Puskesmas Sukolilo, Puskesmas Arosbaya, Puskesmas Klampis, Puskesmas Burneh, Puskesmas Jaddih (Kecamatan Socah), dan Puskesmas Kedundung (Kecamatan Modung). Sementara data dari 15 puskesmas lainnya, hingga Kamis (28/7/2016) siang belum masuk.

"Sementara data yang masuk masih dari tujuh puskesmas. Kemungkinan sore ini sudah kami terima," ungkap Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bangkalan A Walid Yusufi.

Data DOFU dari 15 puskesmas lainnya memang sengaja ditunggu oleh Dinkes Bangkalan. Mengingat besok, Jumat (29/7/2016), Validasi Program Imunisasi dan Persiapan DOFU GAVI (Global Allians Vaccine Immunization) digelar.

Program tersebut digelar sebagai upaya pencapaian Universal Child Immunization (UCI) desa. Sehingga, 91 persen bayi mendapatkan IDL secara merata di seluruh desa.

"Sesuai persyaratan SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang harus dicapai oleh setiap kabupaten dan kota," jelas A Walid didampingi Staf Pencegahan dan Surveilance Epidemiologi Dinkes Bangkalan Sisca Damayanti Sari.

Hambatan pencapaian IDL saat ini, lanjutnya, orang tua bayi hingga neneknya pun menolak pemberian imunisasi karena efek panas yang ditimbulkan.

Menurutnya, efek panas yang ditimbulkan setelah pemberian imunisasi itu dikarenakan vaksin yang masuk merangsang tubuh untuk membentuk antibodi sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut.

"Seharusnya bayi usia nol hingga usia 11 bulan sudah mendapatkan tujuh antigen. Di antaranya HBO (usia 0-7 hari), BCG/P1 (1 bulan), DPT-HB-Hib/P2 (2 bulan), DPT-FIB-Hib/P3 (3 bulan), DPT-HB-Hib/P4 (4 bulan), dan campak pada usia 9 bulan," paparnya.

Ia menambahkan, pihaknya selalu memberikan pemahaman kepada ibu dan keluarga bayi dalam setiap kesempatan imunisasi melalui puskesmas-puskesmas terkait pentingnya pemberian IDL secara teratur.

"Biasanya setelah DPT1 sudah tidak mau lagi diimunisasi karena panas. Padahal diberikan penurun panas sudah bisa," imbuhnya.

Selain faktor penolakan orang tua dan keluarga bayi, terhambatnya pemberian IDL juga disebabkan faktor urbanisasi.

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved