Minggu, 3 Mei 2026

Berita Banyuwangi

Ini yang Dirasakan 15 Pelajar saat Belajar dan Tinggal Bersama Temu, Maestro Gandrung Banyuwangi

Sejak 19 hingga 26 Juli 2016, 15 pelajar SMA/SMK se-Indonesia pilihan itu belajar tari dan menyanyi gandrung, kesenian khas Banyuwangi.

Tayang:
Penulis: Haorrahman | Editor: Musahadah
surya/haorrahman
15 pelajar pilihan se-Indonesia belajar Gandrung Banyuwangi ‎ 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Sanggar Genjah Arum, Kemiren Banyuwangi, Selasa (26/7) malam, ramai dikunjungi gadis-gadis remaja usia pelajar. Dari logat bicaranya, mereka bukan asli Banyuwangi.

Ada 15 remaja dengan logat-logat yang berbeda. Mereka berasal dari Padang, Gorontalo, Bali, Jawa Tengah, NTT, dan daerah lainnya.

Ternyata mereka adalah pelajar-pelajar pilihan dari seluruh Indonesia, yang selama tujuh hari belajar bersama maestro gandrung Banyuwangi.

Sejak 19 hingga 26 Juli 2016, 15 pelajar SMA/SMK se-Indonesia pilihan itu belajar tari dan menyanyi gandrung, kesenian khas Banyuwangi.

Mereka mengikuti Program Belajar Bersama Maestro 2016, yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ada 150 peserta kegiatan ini yang mempelajari beberapa kesenian dan tinggal bersama 10 maestro seni di Indonesia.

Seperti maestro Nano Riantiarno, Sundari Soekotjo, dan lainnya. Masing-masing tempat diisi oleh 15 pelajar.

Banyuwangi menjadi salah satu tempat mereka belajar.

Banyuwangi dipilih karena terdapat gandrung, dan di kabupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut, memiliki sang maestro gandung, Temu Mistyi.

Temu merupakan penari gandrung kawakan. Perempuan kelahiran Banyuwangi, 20 April 1953 merupakan rujukan gandrung di Banyuwangi.

Selain memiliki tarian yang gemulai, Temu dianugerahi suara emas yang jarang dimiliki gandrung lain. Melengking tinggi dengan cengkok Osing khas.

Dia juga bisa mengolaborasikan suara gending gandrung dengan lagu Banyuwangi modern.

Para peneliti, menyebut suara gandrung Temu, adalah sebuah eksotisme timur.

15 pelajar yang mengikuti program ini adalah mereka yang memiliki bakat dalam bidang seni.

Seleksi mengikuti program ini, digelar secara online.

Calon peserta harus mengirim video karya seni mereka ke panitia. Setelah itu diseleksi, dan hanya mereka yang terpilih bisa mengikuti program ini.

Seperti Santi Dewi, pelajar asal Bali. Pelajar SMAN 2 Mendoyo tersebut mengirimkan videonya menampilkan tari legong kuntul.

"Tariannya bebas, bisa tari daerah atau kreasi. Yang penting seni," kata Santi.

Sekitar awal Juli 2016, Santi dihubungi pihak Kementerian dan terpilih untuk menjadi bagian dalam program Belajar Bersama Maestro.

"Saat ditawari bersedia atau tidak, langsung saja saya mau," kata pelajar berusia 15 tahun tersebut.

Berbeda dengan Santi, Wahyu Larasati. Pelajar asal Salatiga, Jawa Tengah tersebut, mengirimkan tari prajurit nyawiji yang merupakan kreasi baru.

Menurut pelajar SMAN 3 Salatiga tersebut, selama di Banyuwangi dia belajar tari dan nyanyi Jejer Gandrung Podo Nonton.

"Kalau narinya sih mudah, hanya saja nyanyinya susah banget," kata Wahyu.

Menurut Wahyu, menyanyikan lagu-lagu gandrung yang berbahasa Osing, membutuhkan cengkok yang baik. Selain itu butuh penghayatan untuk menyanyikannya.

Selama di Banyuwangi 15 anak itu berlatih dan menyaksikan langsung sang maestro. Bahkan pernah ada kejadian unik, saat Temu diundang di acara resepsi pernikahan, 15 pelajar juga ikut.

"Teman-teman datang gak diundang. Tidak ngasih bowoh, habis-habisin makanan. Pulang minta suvenir lagi. Seru pokoknya," kata Wahyu.

Selain bisa kenal dengan pelajar-pelajar dari daerah-daerah se-Indonesia, menurut Wahyu, mereka juga senang bisa ke Banyuwangi. Menururnya, Banyuwangi daerah yang indah dan banyak tempat wisatanya.

15 pelajar ini akan tampil di Yogyakarta, pada 29 Juli 2016. Mereka akan menampilkan hasil selama belajar di Banyuwangi. Demikian juga dengan hasil belajar di 9 maestro lainnya.

Aekano Haryoto, pendamping 15 pelajar tersebut mengatakan, tujuan dari program ini adalah sebagai regenerasi seni.
"Hasil dari belajar di Banyuwangi ini, diharapkan bisa ditularkan ke daerah asalnya," kata Aekano.

Dengan program ini, diharapkan para peserta akan semakin mengenal, mempelajari, dan pada akhirnya melestarikan seni gandrung.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved