Breaking News:

Citizen Reporter

Begini Cara Pintar Belajar Sejarah Dari Buku ke Buku

menyelami sejarah masa silam memang butuh keseriusan ekstra.. ada cara pintar paham sejarah dengan cara menyenangkan.. ini dia salah satu caranya..

Editor: Tri Hatma Ningsih
condesign/px
ilustrasi 

Reportase : Eko Prasetyo
Pegiat literasi/Alumnus Pascasarjana Universitas Dr. Soetomo Surabaya
fb.com/eko prasetyo

MENYELAMI peristiwa-peristiwa masa lalu tak hanya bisa dilakukan dengan pelesir ke tempat-tempat bersejarah. Kegiatan tersebut juga dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku-buku sejarah yang menarik.

Itulah yang dilakukan oleh komunitas Griya Literasi dari kota udang Sidoarjo ini, mengawali bulan Syawal dengan aktivitas membaca buku sejarah.

”Kebetulan kami mempunyai klub buku yang rutin berkumpul sebulan sekali untuk membahas berbagai topik atau bacaan tertentu yang sudah disepakati. Harapannya, selain meningkatkan wawasan dan pengetahuan dari informasi yang diperoleh lewat bacaan tersebut, kami juga ingin berpartisipasi dalam mengembangkan budaya literasi. Terutama membaca,” terang Ratih Damayanti, pegiat di Griya Literasi.

Buku berjudul Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu karya jurnalis senior P Swantoro menjadi pilihan Griya Literasi. Buku tersebut dianggap asyik dibaca karena bahasanya sederhana dan  mengalir sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk anak muda.

Penulis yang wartawan juga sejarawan, tak mengherankan apabila peristiwa bersejarah tertentu ditulis dengan amat detail. Bahkan, Jacob Oetama, pemimpin umum harian Kompas, turut mengapresiasi khusus buku ini.

Swantoro menuliskan sebuah peristiwa atau komentar dengan tak lupa menyebutkan siapa pengarangnya, siapa penerbitnya, tahun penerbitan, dan halaman berapa. Detail inilah yang menjadi kekuatan dan daya tarik buku ini.

Beberapa peristiwa bersejarah yang diceritakan adalah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830), Balai Poestaka, tokoh pengarang dan peneliti zaman Hindia Belanda, hingga tokoh republik seperti Soekarno, Tan Malaka, dan Moh Hatta.

Semua dikisahkan detail dan mencatumkan sumber literatur yang tak sembarangan, yakni literatur induk. Misalnya, History of Java 3 (jilid), Serat Pararaton, lima jilid karya Dr Pigeaud tentang Negarakertagama yang diberi judul Java in the Foruteenth Century, dan enam jilid De Java Oorlog karya Louw dan De Klerck.

”Di sini kami bisa belajar bagaimana menghargai dan menuliskan sejarah dari sudut pandang pengalaman serta observasi yang didukung oleh studi literatur yang baik,” jelas Ratih.

Ditambahkannya, kegiatan rutin membaca buku pilihan itu akan terus dilakukan dengan memilih bacaan-bacaan menarik lainnya. ”Semua kalangan bisa bergabung dengan Griya Literasi untuk mengikuti klub buku ini,” pungkasnya.

 


 

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved