Berita Surabaya

Karangan Bunga Dua Kapolres Masih Terpampang di Rumah Slamet Riyanto

#SURABAYA - Ada karangan bunga dari Kapolres Madiun, AKBP Sumaryono, dan Kapolres Tanjung Perak, AKBP Takdir Mattanete.

Penulis: Zainuddin | Editor: Yuli
zainuddin
ASRAMA POLISI COLOMBO - Karangan bunga dari Kapolres Madiun, AKBP Sumaryono di rumah keluarga Slamet Riyanto. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Keluarga Bima Candra Herduyanto sedang dalam suasana duka saat Polrestabes Surabaya memintanya mengosongkan rumah dinas yang dihuninya.

Bapaknya yang purnawarawan polisi, Slamet Riyanto baru meninggal dunia pada 26 Juni 2016 lalu.

Suasana duka masih terlihat tadi siang. Karangan bunga duka masih terpampang di depan rumahnya, kompleks Asrama Polisi Colombo, Surabaya.

Ada karangan bunga dari Kapolres Madiun, AKBP Sumaryono, dan Kapolres Tanjung Perak, AKBP Takdir Mattanete.

"Bapak dinas terakhir di Polres Surabaya Utara pada 1994 lalu," kata Bima di depan rumahnya.

Keluarga Slamet sudah domisili di rumah dinas Aspol Colombo itu sejak 50 tahun silam. Selain aktif di kepolisian, Slamet juga aktif di instansi pemerintah. Menurutnya, Slamet beberapa kali dipercaya menjadi lurah, seperti Lurah Keputran, dan Lurah Petemon.

Slamet baru benar-benar pensiun pada 2002 lalu. Jabatan terakhirnya adalah Lurah Petemon.

Slamet adalah anggota keluarga terakhir yang menjadi polisi. Empat anaknya tidak ada yang mewarisi darah polisi. Jadi sekarang seluruh penghuni rumah tersebut adalah warga sipil.

Meskipun menempati rumah dinas polisi, Bima mengaku tidak pernah mendapat fasilitas apapun dari Polda Jatim atau Polrestabes. Keluarga ini menanggung sendiri seluruh operasional rumah dinas. Keluarga Slamet tetap membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), PDAM, dan listrik.

"Sekarang kami terpaksa pindah. Tidak ada kompensasi atau apapun," tambahnya.

Polrestabes selaku kuasa lahan Aspol tersebut mengeluarkan kebijakan berbeda bagi penghuni Aspol. Bagi penghuni yang masih tercatat sebagai polisi aktif, direlokasi di Aspol Bangkingan.

Sedangkan penghuni yang bukan polisi aktif diminta meninggalkan rumah dinas itu tanpa alternatif tempat domisili.

Keluarga Slamet termasuk kategori kedua. Bima mengaku tidak tahu akan domisili di mana setelah meninggalkan rumah dinas tersebut. Barang-barang dan perabotan miliknya terpaksa dititipkan sementara di Mapolda atau Mapolrestabes.

Sebenarnya Bima dan keluarganya sempat keberatan saat petugas mengangkut perabotannya ke truk. Tapi petugas memintanya datang ke Mapolrestabes atau Mapolda untuk mengambil perabotan rumahnya.

Dia menduga kepolisian memiliki skenario lain terhadap warga yang enggan meninggalkan rumah dinas. Dia memperkirakan penghuni rumah dinas akan diminta membuat surat pernyataan saat mengambil perabotan rumahnya.

Bima menambahkan sebenarnya penghuni bersedia rumah dinas tersebut. Penghuni hanya minta proses pengosongan itu sesuai prosedur. Dia menganggap pengosongan tadi pagi tidak sesuai prosedur.

Dia mencontohkan surat eksekusi. Tidak ada satu pun petugas yang menunjukan surat eksekusi. Makanya dia menganggap proses pengosongan tersebut ilegal.

"Kami sudah menunjuk pengacara. Semoga nanti ada kejelasan soal rumah ini," terang Bima.

BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved