Reportase dari Thailand

Ternyata Begini Lebaran cara Thailand Itu

jangan harap menemukan lebaran meriah dengan gema takbir sahut bersahut di kantong muslim di Thailand sekalipun.. tetapi lebaran ya tetap lebaran..

Ternyata Begini Lebaran cara Thailand Itu
nailah sadiyatul fitriah/citizen
Inilah ketupat ketan ala Thailand 

Reportase : Nailah Sa’diyatul Fitriah
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Malang/tengah PPL/KKN di Songkhla, Thailand

...Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar...La Illaaha Illallahu Allahu Akbar...Allahu Akbar wa lillahil hamd..

 

GEMA takbir hanya terngiang sekejap di telinga saat malam Hari Raya Idul Fitri di Thailand. Ya, selepas salat isya gema takbir memuji kebesaran Allah SWT itu mengalun hanya dari satu surau saja untuk kemudian hilang tak terdengar lagi gemanya. Sungguh miris. 

Memang berbeda dengan di Tanah Air, saat malam takbiran, praktis malam hari hingga menjelang pelaksanaan salat Ied, gema takbir tak putus digemakan.

Merayakan lebaran di Thailand akhirnya sanggup membobol tanggul air mata saya. Tanpa takbir, tanpa kue kering tertata di meja ruang, tanpa ketupat dan opor ayam, sungguh inilah lebaran sunyi di negeri gajah putih ini.

Selepas salat Ied, warga di tempat saya mengabdi, Nathawee, Sogkhla, Thailand Selatan, hanya bersalam-salaman di masjid dan beberapa di antaranya mengikuti tradisi santap bersama di masjid.

Di masjid dan di rumah orangtua asuh tempat saya bermukim selama di Thailand, saya menemukan ketupat Thailand dalam versi berbeda. Saya menyebutnya ketupat ketan. Berbeda dengan di Indonesia, ketupat dibuat dari beras. Di Thailand, ketupat berbentuk segi tiga ini dibuat dari ketan.

Idul Fitri yang sunyi pun berlalu begitu cepat. Ternyata, warga di sini 'mengganti' kemeriahan Idul Fitri dengan Rayo 6 atau hari raya selepas puasa syawal enam hari. Ternyata inilah hari raya sesungguhnya bagi warga muslim Thailand.

Baru di momen inilah warga berpesta ketupat dan gulai ayam, bersama seluruh anggota keluarga mereka menyantap hidangan istimewa ini. Bahkan berziarah kubur sembari membawa ketupat, salat tasbih, santap besar, dan bersilaturahmi dengan keluarga di kampung. Sekolah pun meliburkan kegiatan belajar mengajar demi perayaan Rayo 6 ini.

Tak pelak perayaan hari ketujuh Syawal di Thailand memang lebih ramai dari hari pertama perayaan Idul Fitri. Maklum, sebagian besar warga Thailand masih melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Baru hari ketujuh syawal menjadi hari raya akbar warga muslim Thailand.

Genap menahan lapar, dahaga, dan gemerlapnya kenikmatan selama satu bulan saat Ramadan, tentu tak seberapa disambung puasa enam hari di bulan Syawal demi mengagungkan dan menghidupkan sunnah Rasul untuk meraih kenikmatan tiada tara ini, Rayo 6.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved