Profil
Hadapi UN Habitat di Kota Surabaya, Ning Sofi Getol Perdalam Seni Budaya
Sebagai anggota Paguyuban Cak & Ning Suroboyo, Sofiari Falianda Fitri pun tak lepas dari hingar bingar gawe besar Kota Surabaya, UN Habitat III.
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Achmad Pramudito
SURYA.co.id | SURABAYA - Akhir bulan Juli ini bakal jadi saat paling sibuk bagi Kota Surabaya yang menjadi tuan rumah United Nation (UN) Habitat III. Tamu dari berbagai negara berdatangan menikmati suasana di Kota Pahlawan ini.
Sebagai anggota Paguyuban Cak & Ning Suroboyo, Sofiari Falianda Fitri pun tak lepas dari hingar bingar gawe besar Kota Surabaya tersebut.
Gadis yang akrab disapa Sofi ini bersama para finalis Cak & Ning lainnya ikut sibuk dalam gelaran acara Pemkot Surabaya kali ini.
“Saya dapat tugas sebagai guide yang memandu delegasi dari berbagai negara yang hadir di UN Habitat nanti,” ujar Sofi, pemegang gelar Wakil 1 Ning Suroboyo 2016.
Agar tak bikin malu para tamunya, mahasiswi semester 6 Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unversitas Airlangga ini pun getol mempelajari seluk beluk Kota Surabaya.
Sehingga bila nanti ada tamu asing menanyakannya dia siap memberi jawaban yang pas, dan sekaligus juga siap mengantarkannya ke lokasi yang diinginkan.
“Saya memperdalam pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Kota Surabaya dengan banyak membaca hingga menggali informasi dari berbagai sumber,” kata Sofi yang juga piawai menari Yosakoi, tari khas Jepang.
Selain itu Sofi juga mendata berbagai informasi penting yang umum dicari oleh tamu-tamu asing. Misalnya lokasi dan nomor telpon kuliner khas, pusat oleh-oleh dan beragam informasi penting lainnya.
Tak hanya itu. Meski sudah menguasai beberapa tarian daerah dan memainkan gamelan, gadis kelahiran Surabaya, 27 Februari 1995 ini masih merasa perlu menambah ketrampilan lainnya, seperti misalnya menyanyikan beberapa lagu khas Surabaya.
Menurut Sofi, ini perlu dilakukan untuk mengantipasi kemungkinan tamu asing tak puas oleh penjelasan mengenai seni budaya Kota Pahlawan ini.
“Kadang turis minta kita nyayikan lagu tertentu karena mereka ingin tahu. Makanya kami sebanyak-banyaknya belajar sejarah dan budaya tidak sekadar tahu tapi setidaknya juga sedikit paham. Misal saya jelaskan tentang gamelan ini bentuknya wujudnya kayak gini, kadang kan gak puas. Jadi perlu praktik sedikit supaya mereka paham,” ungkap gadis berhijab ini sambil tersenyum.
Sofi mengaku dirinya belajar mengenai berbagai seni budaya tidak hanya dari paguyuban melainkan lebih banyak dari kampus.
Apalagi ia juga tergabung dalam beberapa kegiatan kemahasiswaan seperti aktif di Badan Semi Otonom (BSO) Karawitan Pakar Sajen dan EdSaman salah satu BSO yang belajar tentang tari Saman dan budaya Aceh.
Budaya asing pun juga ia pelajari secara otodidak seperti tari Yosakoi. Sofi dan beberapa temannya membuat grup tari Yosakoi dan pernah tampil di Balai Kota Surabaya bersama ratusan peserta lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/soviari-falianda-fitri_20160716_083721.jpg)