Breaking News:

Berita Kampus Surabaya

Di Tangan Mahasiswa Teknobiomedik Unair, Ekstrak Daun Sirsak Bisa Jadi Pengganti Massa Tulang

Penelitian ini berhasil didanai Kemenristekdikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKMPE ).

surya/sulvi sofiana
Tim PKMPE dipimpin Andini Isfandiari menunjukkan “bone filler” yang memiliki sifat antikanker. 

SURYA.co.id |SURABAYA – Mahasiswa S1 Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil memanfaatkan ekstrak daun sirsak menjadi bahan pengganti massa tulang.

Penelitian ini kemudian berhasil didanai Kemenristekdikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKMPE ).

Massa tulang ini hilang karena pengangkatan massa tulang akibat kanker tulang.

Ketim tim Andini Isfandiary (22) bersama empat temannya, Imroatus Sholikhah (22), Rhisma Dwi Laksana (20), Yukiko Irliyani (20), dan Ahmad Nurianto (20), dari program studi teknologi biomedik melakukan inovasi ini untuk mencari alternatif solusi atas minimnya pengobatan, apalagi kanker tulang berakibat pada kecacatan.

Kanker tulang adalah salah satu jenis kanker yang menyerang bagian tulang manusia, di mana penyakit ini tidak dapat diketahui secara langsung, karena gejalanya yang hampir sama dengan nyeri.

Penanganan yang terlalu dari penyakit ini berakibat fatal, yakni pengangkatan massa tulang bahkan amputasi.

“Kami mengadaptasi beragam penelitian bahan pengganti massa tulang. Biasanya pakai bahan hidroksiapatit, dan campurannya bukan magnesium. Kelemahannya biasanya pakai zat aditif untuk menguatkan tulang, masih impor juga,” terangnya pada SURYA.co.id, Minggu (19/6/2016).

Sehingga ia dan timnya, membuat campuran bahan tradisional untuk bahan pengisinya. Sehingga tidak hanya untuk mengisi tulang yang hilang akibat kanker, tetapi juga memiliki sifat antikanker, yang diharapkan mampu menghentikan pertumbuhan sel kanker.

Sifat anti kanker ini didapat dari ekstrak daun sirsak, kemudian digunakan untuk melapisi bone filler tersebut.

“Kali ini sudah 5 bulan mencoba menemukan komposisi yang tepat untuk bone filler ini,” tambahnya.

Kegagalan dari pembuatan prototype juga mereka alami. Yaitu kekuatan bone filler yang ternyata tidak sesuai prediksi. Bahan yang harusnya sekuat tulang malah hancur dengan mudah.

“Kami evaluasi, ternyata kemungkinan besar karena salah satu bahan yang kami gunakan ukuranya belum nano. Setelah itukami mencari bahan dengan ukuran nano semua dan terbukti hasil akhirnya sekuat tulang,” lanjut Imroatus.

Untuk membuat bone fieer ukuran 10 x 10 sentimeter, mereka menghabiskan biaya hingga Rp 2 juta. Sedangkan waktu pembuatan diperkirakan dua hari.

“Waktu du hari itu di luar waktu kami meyiapkan ekstrak daun sirsak yang memang butuh waktu lama,” terangnya.

”Kami berlima ingin memberikan harapan dan senyuman kepada penderita kanker tulang, karena tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jika tulang mereka harus diangkat karena terkena kanker, maka mudah-mudahan kami bisa membantu mereka dengan inovasi ini,” tutur imbuh Rhisma.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved