Jumat, 10 April 2026

Ramadan 2016

Pedagang Takjil Tak Ingin Dapat Untung Besar Tapi Langsung Ditinggal Konsumen

#SURABAYA - Para pedagang makanan di Bazaar Ramadan sangat hati-hati dalam menyiapkan menu yang akan disajikan buat konsumen.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Yuli
habibur rohman
PENGANTAR BERBUKA - Beraneka jajanan dan makanan ditawarkan pedagang di area Masjid Agung Al Akbar Surabaya untuk keperluan takjil dan berbuka puasa. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Para pedagang makanan di Bazaar Ramadan sangat hati-hati dalam menyiapkan menu yang akan disajikan buat konsumen.

Sebab, keberadaan mereka yang cukup lama di kegiatan rutin tahunan setiap bulan Ramadan itu membuat mereka khawatir kehilangan pelanggan.

Meski begitu, mereka tak menepis ada saja pedagang makanan yang mencoba mengambil kesempatan itu untuk mencari keuntungan sesaat.

“Untungnya sedikit, tapi kalau kemudian tidak datang lagi kan percuma,” cetus Putik yang memajang dagangannya di Taman Gunungsari, Kompleks Marinir Surabaya.

Putik lalu memberi contoh sambal yang sering jadi andalan beberapa pedagang makanan. Kalau mau dapat bahan murah, menurut Putik, ada pedagang yang sengaja beli cabe yang sudah busuk.

“Kalau di pasar-pasar itu kan pedagang lombok selalu memisahkan lombok yang sudah busuk dan tidak terpakai. Nah, biasanya ini malah ada yang membeli karena harganya jauh lebih murah,” paparnya.

Putik mengaku keuntungan yang diperoleh pedagang yang memakai cabe afkiran itu cukup besar. “Tinggal diblender lalu ditambahi bahan pengawet sudah siap diulek untuk jadi sambal. Untungnya pasti banyak dia,” begitu urainya.

Namun, Putik menjamin sambal yang dia pakai untuk menu ayam dan bebek goreng buatannya adalah sambal dari lombok segar.

“Memang untun sedikit, tapi yang penting konsumen tak kapok dan usaha kita bisa tetap bertahan,” katanya.

Komentar senada dilontarkan Elma Evita yang mengisi bazaar Ramadan di Jx International, dan Anik yang ikut Bazaar Ramadan di Lapangan Kodam Brawijaya.

“Saya pakai lontong untuk menu sayuran. Jika hari ini tidak laku langsung bawa pulang besok bawa yang baru lagi,” tandas Anik yang dikenal dengan label ‘Sambal Biru’ ini.

Begitu pula sayuran yang dia sajikan buat konsumen dipastikan hasil masakan pada hari itu juga. “Riskan kalau kegiatan seperti ini kita main-main dengan bahan pengawet. Sekali ketahuan jelek oleh konsumen mereka pasti tak suka datang lagi,” imbuhnya.

Sedang Elma Evita memilih memasak di lokasi stan Bazaar Ramadan di Jx International sehingga ada jaminan bagi konsumen terhadap kualitas makanan yang akan dinikmati. “Untuk ayamnya saya potong-potong dulu di rumah lalu saya beri bumbu dasar. Masaknya nanti kalau sudah di stan,” ungkapnya.

Untuk menu minuman pun, Elma menyatakan memakai gula asli dan tanpa pewarna buatan. “Masakan itu kan juga untuk keluarga saya. Jadi pasti saya nggak akan memberi makanan yang ada pengawet untuk keluarga di rumah,” tandasnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved