Ramadan 2016
Andalkan Lidah dan Perut Sebelum Beli Takjil dan Makanan untuk Berbuka
#SURABAYA - "Saya mengandalkan lidah dan perut saja. Kalau ada yang sakit berarti memang ada jajanan yang bermasalah."
Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Tidak hanya di kawasan Kodam Surabaya, bazar makanan setiap bulan Ramadan di Bundaran ITS juga terlihat ramai setiap harinya.
Setidaknya, ada 25-30 pedagang yang menjajakan makanan di stan-stan atau rombong di sana hingga gang menuju Gebang.
Bahkan, para pembeli sudah memadati lokasi sejak pedagang itu tiba pukul 15.00. Martha, mahasiswi ITS, selalu membeli jajanan dan minuman untuk buka puasa di sana.
"Menurut saya sih makanan, minuman, jajanan yang dijual di sini enak-enak saja. Saya kebetulan sensitif kalau masalah makanan, kalau tidak cocok sedikit, perut sudah bermasalah. Tetapi belum pernah ada masalah selama ini," ujar Martha.
Ia dan beberapa temannya sudah berkali-kali mengunjungi Bundaran ITS. Untungnya, belum ada kejadian yang mengindikasikan ada zat kimia berbahaya atau makanan yang diolah kali kedua dan dijual kembali.
"Di sini juga tidak ada makanan kemasan yang dijual, hampir semuanya makanan yang harus dimasak dulu ketika ada yang beli. Seperti nasi goreng, mie goreng, sate ayam. Kemudian, jajanannya juga goreng-gorengan dan sate tusuk," lanjutnya.
Fira, pembeli lainnya, terlihat mengantongi beberapa jenis sate tusuk, usus, telur puyuh, kerang, dan ati ampela, serta satu plastik es blewah.
Ketika ditanya mengenai razia BBPOM pada beberapa makanan di Masjid Agung Surabaya, Fira agak ragu sampel di Bundaran ITS ada yang positif zat kimia berbahaya.
"Mungkin ada, saya tidak tahu. Tetapi berdasarkan pengalaman tidak ada yang rasanya aneh. Takut sih, tapi saya mengandalkan lidah dan perut saja. Kalau ada yang sakit berarti memang ada jajanan yang bermasalah," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/jalan-karang-menjangan-surabaya_20160617_192529.jpg)