Rabu, 10 Juni 2026

Futsal

Mengenal Anchor Kembar; Benteng Kuat Pertahanan Buana Mas

Namun, sukses tim asuhan pelatih Utomo Suryodiputro ini tak bisa dilepaskan dari kerja keras sejumlah pilarnya.

Tayang:
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Parmin
surya/bobby koloway
Si kembar Yunus Saputra dan Natra Yudistira. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tim Futsal Buana Mas untuk sementara menempati posisi kedua di klasemen Surabaya Futsal League (SFL) 2016.

Namun, sukses tim asuhan pelatih Utomo Suryodiputro ini tak bisa dilepaskan dari kerja keras sejumlah pilarnya.

Satu di antaranya adalah punggawa kembar lini belakang Buana, Natra dan Putra.
Kedua pemain yang berposisi sebagai anchor ini terbukti menjadi andalan Buana dalam meredam serangan lawan dari sisi pertahanan.

Sebagaimana diketahui, hingga paruh musim 2016 Buana menjadi tim yang paling sedikit mengalami kebobolan.

Bertanding sebanyak delapan kali, mereka baru kemasukan 21 gol. Bahkan, sang pemuncak klasemen sementara, DJS FC, justru kebobolan dengan lebih banyak gol, yakni 31.

Sebuah bukti bahwa lini pertahanan Buana memang menjadi yang terbaik sejauh ini.

Lini pertahanan Buana memang begitu sulit untuk ditembus oleh para lawannya selama ini.

Selain penjaga gawang, Buana juga memiliki sepasang benteng kembar yang begitu kokoh mengawal lini pertahanannya. Mereka adalah Yunus Saputra dan Natra Yudistira.

Putra dan Natra memang baru mengenal futsal di usia 19 tahun. Namun, sejak usai dini, mereka telah mengenal sepakbola, induk cabang olahraga futsal.

"Saya awalnya bukan bermain futsal namun sepakbola. Kami tertarik bermain dari futsal awalnya dari coba-coba. Kami diajak oleh salah satu rekan," cerita Putra kepada Surya.co.id, Senin (13/6/2016).

Dari sanalah karier kedua pemain dimulai di Buana. Meskipun telah berlatih lama di sepakbola, memahami peraturan di futsal bukan hal yang mudah bagi mereka.

"Memang mirip, namun berbeda. Misalnya peraturan power-play. Di sepakbola, jelas tak ada. Oleh karena itu, kami memang memerlukan banyak waktu untuk memahaminya," lanjut Putra.

Tak mengherankan, mereka pun memerlukan waktu sekitar setengah tahun, sebelum akhirnya berhasil menembus skuad utama Buana.

Menurut penjelasan mereka, mudahnya mengenal peraturan ini tak lepas dari kerjasama antar keduanya.

"Kami kebetulan masuk bersama. Oleh karena itu, belajarnya pun lebih mudah. Apalagi tipikal kami pun mirip, sama-sama anchor. Jadi, sejak awal kami memang bersama di lini pertahanan," lanjutnya.

Sejak saat itu, keduanya pun selalu diduetkan di grup yang sama dalam satu tim. Apabila yang satu diganti, lainnya pun demikian. Mereka seakan tak bisa dipisahkan.

Sayang, kebersamaan kedua pemain ini harus terhenti ketika satu di antaranya bermain untuk Jawa Timur.

Ya, Putra bersama empat pemain Buana lainnya terpilih menjadi punggawa futsal Jatim yang diproyeksikan bermain di PON XIX/2016.

Namun, keberhasilan Putra menembus skuad Futsal Jatim tak dibarengi oleh sang adik.
"Sayang, Natra tak mau mengikuti seleksi dari awal. Saya sudah mengajaknya, namun dia menolak," pungkasnya.

Bermain tanpa didampingi sang adik pun terkadang memang membuat Putra terasa beda.

"Jelas rindu ketika main di lapangan tanpa adik. Kaya ada yang beda," lanjut cowok berusia 23 tahun ini.

Meskipun demikian, sang adik pun memberikan motivasi kepada sang kakak untuk membawa Jatim menjadi juara.

"Saya akan tetap mendukung kakak bermain untuk Jatim. Semoga dia dapat membawa Jatim menjadi juara," pungkas Natra.

Natra sejauh ini telah mencetak lima gol untuk Buana Mas sekaligus menjadi top skorer timnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved