Citizen Reporter Spesial Ramadan

Ramadan Tanpa Bumbu di Thailand

gema tadarus dari surau dan masjid hingga tetabuhan membangunkan sahur sama sekali tak dikenal di Thailand.. Ramadan pun terasa lebih khusyuk..

Ramadan Tanpa Bumbu di Thailand
dean moriarty/px
ilustrasi 

Reportase : Nailah Sa’diyatul Fitriah
Mahasiswa Universitas Negeri Malang/tengah mengikuti PPL/KKN 2016 di Miftahuddeen School, Nathawee, Songkhla, Thailand Selatan

RAMADAN tahun 2016 ini terasa tanpa bumbu sama sekali. Itu untuk menggambarkan suasana bulan Ramadan yang harus saya jalani di Thailand Selatan. Ramadan di negeri gajah putih ini ternyata tidaklah seriuh di Indonesia, sehingga menunaikan ibadah serasa hambar, seperti masakan tanpa bumbu. 

Di sini, tak mendengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang menggema di malam hari dari masjid dan surau di Thailand Selatan. Terutama di Nathawee, Songkhla, tempat saya menjalani program KKN/PPL ini.

Jika di Indonesia kegiatan tadarrus Al Quran menjadi bumbu penyedap ibadah di bulan Ramadan, di sini tidak ada kegiatan tersebut. Meski demikian, rutinitas ibadah selama Ramadhan seperti di Indonesia harus tetap dijalankan. Seperti mengkhatamkan Al Quran, salat dhuha, salat tarawih, dan ibadah yang lainnya.

Dampaknya adalah ibadah-ibadah tersebut terlaksana tanpa greget yang totalitas, melaksanakannya dengan penuh hati adalah solusi terbaik untuk menghidupkan bulan Ramadan di negeri rantau ini.

Selain tadarrus Al Quran, hal yang berbeda dari Ramadan di Thailand adalah pelaksanaan salat tarawih dan salat witir. Salat tarawih di sini lebih memakan waktu dan bacaan dzikir salat witir yang sangat jauh berbeda ddenan di Indonesia.

Salat tarawih yang dimulai pukul 20.15 – 21.00 waktu setempat ini lebih lama pelaksanaannya karena surat yang dibaca imam adalah surat Al Baqarah, bukannya surat-surat pendek seperti di Indonesia.

Suara bilal di setiap pergatian dua rekaat dalam salat tarawih pun tidak terdengar di sini. Hanya ada penanda doa yang dipanjatkan imam salat setiap selesai melaksanakan empat rekaat salat dengan dua salam.

Dalam hal salat witir, dzikir yang dipanjatkan sangat berbeda dari bacaan yang ada di Indonesia. Namun, doa yang dilantunkan sama dengan bacaan doa salat tarawih dan witir di Indonesia.

Lain sungai, lain ikan. Lain negara, lain adat. Pelajaran inilah yang dapat saya ambil dari kegiatan ibadah bulan Ramadan di Thailand Selatan ini. Perbedaan tidak untuk disesalkan, tapi untuk menguatkan daya ketahanan diri dari setiap perbedaan yang kita rasakan dengan tidak meninggalkan prinsip adat dan budaya negeri sendiri.

Ramadan tanpa bumbu di negeri rantau bukanlah masalah, namun tantangan bagi saya untuk mengolahnya menjadi ibadah yang lebih nikmat dengan bumbu asli Indonesia.

 

 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved