Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Reporter

Begini Rahasia Menulis Cerpen di Media Massa

gampang-gampang susah menulis cerpen untuk media massa... tapi bukan berarti tak bisa kan? ini dia tips dari cerpenis Wina Bojonegoro...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
coffee pixabay
ilustrasi 

 

Reportase : Eko Prasetyo
Alumnus Pascasarjana Universitas Dr. Soetomo Surabaya

TIDAK mudah menulis cerita pendek atau cerpen, apalagi bagi penulis pemula. Dibutuhkan kepekaan dalam mengolah ide cerita dan kepiawaian meramu diksi yang menarik. Bahkan, tak jarang proses kreatif menulis cerpen itu bisa memakan waktu lumayan panjang dan berliku.

Proses kreatif menulis cerpen inilah yang coba dibagikan oleh tiga cerpenis muda Surabaya pada Kamis, 12 Mei 2016 lalu. Ketiganya adalah AM Aziz, Sitta Nurdiany, dan Roselly L Solichan. Jebolan kelas fiksi Sirikit School of Writing tersebut berbagi inspirasi kepada para penikmat sastra dalam bedah buku cerpen Badut Kematian karya mereka di Perpustakaan Universitas Airlangga.

Aziz yang merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya itu mengatakan bahwa dirinya memang sejak lama menyukai cerpen. Kegemarannya inilah yang kemudian membawanya memilih kuliah jurusan sastra Inggris Unesa pada 1999. Di sinilah kemampuannya menulis cerpen terasah.

”Gagasan menulis cerpen itu bisa datang dari mana saja. Misalnya, pengalaman membaca buku tertentu, pengalaman mengamati sesuatu, ataupun pengalaman pribadi yang unik,” jelas pria 34 tahun tersebut.

Badut Kematian merupakan buku perdana bagi Aziz, Sitta, maupun Roselly. Ketiganya mengaku memiliki gaya dan karakter masing-masing dalam menulis cerpen.

Roselly, misalnya, mengatakan bahwa cerpen-cerpennya kebanyakan mengusung tema cinta sebagai sesuatu yang universal. Sementara Aziz mengakui lebih menyukai cerpen yang kental akan paradoksal dan ironi, sedangkan Sitta cenderung menonjolkan estetika dalam tiap karyanya.

Yang istimewa, buku Badut Kematian ini dibedah langsung oleh sastrawan Wina Bojonegoro. Cerpenis yang bernama asli Endang Winarti itu mengatakan bahwa menulis cerpen memiliki banyak manfaat. ”Membaca cerpen itu memberikan hiburan tersendiri sekaligus inspirasi,” terangnya. Wina menambahkan, cerpen adalah sebuah cerita yang sulit membuatnya karena dibatasi halaman. ”Hal ini bergantung pada karakteristik media dan selera redaktur,” jelas cerpenis kelahiran 10 Agustus 1962 tersebut.

Namun, lanjut Wina, kendatipun merupakan karya fiksi, sebuah tulisan cerpen juga harus bertanggung jawab. Artinya, tetap ada pesan-pesan moral atau sosial yang terkandung di dalamnya. ”Yang terpenting dari sebuah cerpen adalah gagasannya, yakni bagaimana kita menyampaikan ide tersebut kepada pembaca lewat diksi-diksi yang bermakna,” paparnya.

Wina tak lupa membagikan jurus jitu dalam menulis cerpen sehingga karya-karyanya mampu menembus media massa cetak nasional. ”Buatlah alur yang tidak biasa, metafora juga menjadi bumbu penyedap cerpen, serta jangan lupa bikin kejutan-kejutan. Dengan begitu, dijamin cerpen kita akan mendapat perhatian khusus dari redakturnya,” ujarnya membuka rahasia suksesnya menulis cerpen.

Kunci cerpen yang menarik, menurut Wina, adalah paragraf awalnya mesti memikat. ”Jangan segan membuang kata yang tidak perlu. Selain itu, harus ada value dalam karya cerpen serta kekuatan pesan yang diusung,” pungkasnya.

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved