Berita Surabaya

Ancaman Kurang Gizi Tidak Hanya Pada Balita

Karena memang kebiasaan minum susu warga Indonesia masih rendah," jelas Michica kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Ancaman Kurang Gizi Tidak Hanya Pada Balita
surya/Monica Felicitas
Kampanye Sarapan Sehat di SDN Dr Sutomo V Surabaya, Sabtu (9/4/2016) bersama Perhimpunan Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia bekerjasama dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menyebutkan prevelensi gizi buruk warga kota Surabaya di tahun 2015 mencapai 0,23 persen.

Jumlah itu, sudah berkurang dibanding tahun 2014, karena pihaknya telah menerapkan pendampingan para kader mulai di lingkungan terkecil, yaitu dasawisma. Kemudian RT dan RW, dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

"Untuk usia dibawah lima tahun (balita) pasti ada data dan pendampingan. Setelah diatas balita, kami identifikasi kan bila ada yang mengalami gizi buruk atau mal nutrisi masuk dalam kategori anak berkebutuhan khusus," jelas dr Sri Setiani M Kes, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Surabaya, saat hadir di event kampanye tujuh hari minum susu di lapangan parkir timur Plaza Surabaya, Minggu (29/5/2016).

Saat ditemukannya remaja kembar yang diduga gizi buruk dan seorang laki-laki berusia 20 tahun, Sri Setiani mengakui bila ada kondisi lain yang menyebabkan keduanya mengalami gizi buruk.
"Ada penyakit ikutan sehingga membuat penyerapan gizinya buruk. Mereka sudah terpantau sejak masih balita dan ada juga yang tidak terpantau, karena biasanya warga musiman atau baru masuk kota Surabaya saat dewasa. Ada banyak latar belakang," jelasnya.
Latar belakang penyakit bawaan, kemudian pola asuh yang salah, menjadi pemicu pertama. Dibandingkan latar belakang ekonomi. Latar belakang ekonomi yang kurang, sekarang sudah tidak menjadi penyebab utama. Karena ada pula ekonomi menengah ke atas mengalami mal nutrisi bahkan kelebihan nutrisi atau obesitas.

"Obesitas dari anak-anak juga sudah menunjukkan potensi penyakit degenarif di masa dewasanya. Potensinya lebih mudah dibanding yang memiliki berat badan yang seimbang dengan menu makanan yang seimbang," tambahnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan nomor 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang, mengatur susunan pangan sehari-hari, harus lengkap jenis makanan dengan sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, serta sayur-sayuran dan buah-buahan yang menjadi sumber vitamin dan mineral.

Michica Wijaya, Marketing SGM Nutriday, sebagai penyelenggara kegiatan gerakan tujuh hari minum susu, mengatakan bila susu juga ada yang diformulasikan untuk seluruh keluarga sebagai tambahan pangan hewani.

"Pada susu kandungan vitamin, mineral, kalsium, serat pangan, protein, zat besi, dengan kadar gula rendah dan disukai seluruh keluarga saat ini sudah bisa menjadi pilihan untuk gizi seimbang," jelas Michica.

Terkait kegiatan gerakan tujuh hari minum susu, merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri atas edukasi ke perumahan-perumahan, tentang pentingnya peran orangtua keluarga dalam membentuk kebiasaan baik/pola makan yang sehat bagi anak.

"Kedua edukasi ke sekolah bagi anak usia 9 hingga 12 tahun tentang pentingnya minum susu bagi kesehatan. Karena memang kebiasaan minum susu warga Indonesia masih rendah," jelas Michica kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Tak hanya itu, ketiga, in Store activation sebagai pengenalan susu yang bisa dimanfaatkan untuk seluruh keluarga dari usia 5 tahun ke atas hingga untuk orang dewasa.

"Kami juga menggelar berbagi tujuh kebaikan atau penyaluran susu untuk mendukung asupan gizi keluarga yang kurang mampu. Di Surabaya ada sekitar 700 keluarga yang berasal dari kelas sosial D,memiliki anak usia 9 hingga 1$ tahun dan mayoritas anak mengalami mal nutrisi," tandas Michica kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved