Breaking News:

Citizen Reporter

Dari Mbah Syafii dan Mbah Kariman Secuil Sejarah Surabaya Dibagikan

ibarat puzzle, potongan kisah Mbah Syafii dan Mbah Kariman ini melengkapi mata rantai sejarah yang hilang...

anggi putri/citizen
Sua Mbah Syafii dan Mbah Kariman di Plampitan 

 

 

Reportase : Anggi Putri
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

CITY tour yang dihajat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) Surabaya, Sabtu (21/5/2016) menyisakan pengalaman tak terlupakan bagi 51 blogger pesertanya.

Bagaimana tidak? City tour mencoba menapaktilas sejumlah lokasi heroik dan bersua saksi sejarah yang memberi warna bukan saja untuk Surabaya, tetapi juga bagi kemerdekaan Indonesia.

Berangkat dari Gedung Siola, gedung indah peninggalan kolonial Belanda, city tour kali ini dipandu Gatot dari Himpunan Pramuwisata  Indonesia (HPI).

Menggunakan bus, rombongan melaju melewati Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan. Hotel yang pernah menjadi penjara, pernah memiliki nama Hotel Yamato sekaligus saksi heroik arek-arek Suroboyo dalam aksi perobekan bendera Belanda.

Bus melaju menuju kawasan Peneleh, tempat rumah HOS Tjokroaminoto berada. Di Rumah Peneleh inilah dulunya menjadi rumah kos Ir Soekarno ketika masih menempuh pendidikan di Surabaya.

Dari Peneleh rombongan menuju kampung Plampitan dan singgah di Waroeng Omah Sedjarah. Di sini rombongan belajar banyak hal tentang sejarah negeri ini. Di rumah inilah jejak pahlawan nasional Roeslan Abdulgani hingga Ahmad Jais, penjahit langganan baju Belanda yang juga seorang intelejen bisa ditemukan.

Masih di kampung yang sama, kejutan manis terjadi saat peserta city tour dipertemukan dengan Mbah Syafii (80) yang tak lain rekan seperjuangan Cak Roeslan Abdulgani.

Kendati usianya sudah senja, namun kesehatan dan ingatannya tetap prima. Kepada para tamu mudanya, Mbah Syafii berharap mereka bisa meneruskan perjuangan para senior dan melanjutkan cita-cita bangsa.

Kejutan kedua datang dari Mbah Kariman (90), pria yang dulunya pernah menjadi ajudan Ir Soekarno. Kini, sebatang tongkat menjadi pemandunya saat beraktivitas. Berdua dengan Mbah Syafii, mereka kerap beraktivitas bersama, senam pagi untuk lansia.

"Tua tak berarti hanya tidur di kasur dan tak melakukan apa-apa," putus Mbah Kariman.

Dari Plampitan, tujuan terakhir city tour adalah Museum Kanker di kawasan Kayon. Di museum ini blogger diajak mengenali gejala penyakit perenggut nyawa banyak perempuan di dunia. Alat digital penghitung angka kematian akibat kanker dari WHO juga tersimpan di museum ini.

Dan, perjalanan hari itupun berakhir dengan pencerahan luar biasa tentang Surabaya.

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved