Berita Surabaya

13 Spesies Burung di Indonesia di Ambang Kepunahan

adanya perburuan burung yang berlebih sehingga populasi burung berkurang secara drastis,” ujar Shepard kepada Surya, Kamis (26/5/2016).

13 Spesies Burung di Indonesia di Ambang Kepunahan
foto: bbc.co.uk
Olahraga falconry sangat beken di kawasan Teluk Persia. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Spesies burung endemik pulau Jawa sedang menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi.

Selain burung ini, sebanyak 12 spesies dan 14 subspesies lainnya juga sedang menghadapi ancaman serupa.

Temuan ini diperoleh TRAFFIC, sebuah organisasi nonpemerintahan atau Non Government Organization (NGO) yang fokus pada pengawasan satwa liar.

Menurut Dr Chris Shepard, Direktur TRAFFIC Asia Tenggara, ancaman kepunahan ini disebabkan oleh tingkat perburuan yang tinggi serta semakin maraknya hobi memelihara satwa liar.

“Pemeliharaan burung di Indonesia adalah bagian besar dari kultur nasional, namun permintaan yang tinggi telah menyebabkan adanya perburuan burung yang berlebih sehingga populasi burung berkurang secara drastis,” ujar Shepard kepada Surya, Kamis (26/5/2016).

Selain Elang Jawa, spesies burung lain yang terancam punah akibat perburuan adalah Merak Hutan Perak, Rangkong Gading, Kakatua Jambul Kuning, Perkici Pelangi, Ekek Geling Jawa, Jalak Putih, Jalak Bali, Cucakrawa, Kacamata Jawa, Poksay Kuda, Poksay Sumatra, dan Gelatik Jawa.

Walaupun kebanyakan burung tersebut dipelihara sebagai satwa peliharaan, namun burung Rangkong Gading adalah pengecualian. Baru-baru ini TRAFFIC mengungkapkan bahwa burung ini diburu secara ilegal dalam jumlah ribuan untuk paruhnya yang unik.
Paruh tersebut dianggap sebagai suatu “Gading” yang menjadi substitusi Gading Gajah yang biasa diperdagangkan. Paruh burung tersebut diukir dan dijual di Tiongkok untuk memenuhi permintaan pasar.

Spesies burung lainnya, Ekek Geling Jawa, dikenal sebagai spesies tersendiri pada tahun 2013. Pada saat yang sama spesies ini diidentifikasikan sebagai burung yang berada di dalam ambang kepunahan akibat perdagangan satwa.

Sebagai respons dari hal ini, Aliansi Burung Terancam Punah Asia (Threatened Asian Songbird Alliance/TASA), yang menjadi perwakilan resmi Asosiasi Kebun Binatang dan Aquaria Eropa (European Association of Zoos and Aquaria/EAZA) menginisiasi program penangkaran di sejumlah kebun binatang sebagai upaya pelestarian, jaminan keamanan, dan propagasi (penyebaran) koloni burung.

Menurut Shepard, usaha konservasi tersebut adalah harapan terakhir untuk jenis burung yang terancam punah sehingga tidak ada lagi kabar mengenai spesies-spesies yang punah di alam.

“Setidaknya lima sub-spesies telah punah di alam akibat perdagangan satwa. Sub spesies ini terdiri dari satu subspesies burung Perkici Pelangi, 3 subspesies burung Kucica Hutan, dan salah satu species Beo yang sangat digemari karena kemampuannya meniru suara manusia,” tuturnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

“Apakah itu spesies atau subspesies, pesan yang dapat disampaikan sama. Perdagangan yang berlebih mengakibatkan kepunahan burung liar Indonesia dan hal ini terjadi dalam laju yang sangat mengkhawatirkan,” sambung pria yang juga salah satu penulis dalam studi mengenai kepunahan burung di Indoensia akibat perdagangan satwa tersebut kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Untuk mengatasi hal tersebut, TRAFFIC merekomendasikan adanya kombinasi antara penegakan hukum yang lebih tegas dengan kampanye dan sosialisasi isu perdagangan burung, serta penangkaran dan pengembangbiakan populasi untuk kebutuhan konservasi.

Selain itu, mereka juga merekomendasikan dilakukannya survey asar burung serta survey genetis burung untuk keperluan pemetaan.

Sementara itu, walau merekomendasikan upaya penangkaran, namun mereka juga menolak upaya penangkaran secara komersil. “Walau menarik secara teori, tetapi penangkaran komersil menghadirkan berbagai kesulitan yang tidak terduga dalam praktiknya,” pungkas dia.

Penulis: Eben Haezer Panca
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved