Partai Golkar

Setya Novanto dan Idrus Marham ke Surabaya, Begini Mereka Bilang soal Jatah Menteri

#SURABAYA - Ketua Umum Partai Golkar Setyo Novanto menyatakan tak pernah berpikir meminta atau berharap jatah menteri.

nuraini faiq
Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham di Surabaya, 25 Mei 2016. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Merapatnya Partai Golkar untuk beralih haluan mendukung pemerintahan Presiden Jokowi semakin menguatkan partai ini berhak atas jatah menteri.

Bahkan, Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham menyebutkan bahwa partainya punya banyak kader untuk membantu pemerintah.

"Partai kami punya banyak kader dan SDM mumpuni. Ada delapan calon ketua umum kemarin dan masih banyak lagi. Mereka siap mendedikasikan untuk bangsa ini," reaksi Idrus atas jatah Golkar mengisi kursi kabinet Kerja Jokowi, di Surabaya, Rabu (25/5/2016).

Namun demikian, Idrus menyebutkan bahwa soal pemilihan menteri itu adalah hak prerogatif presiden meski semua petinggi Partai Golkar itu telah bertemu Presiden Jokowi. 

Idrus mengaku, dirinya bersama Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan pimpinan partai ini menemui presiden dalam rangka menyampaikan putusan Munaslub. Yakni soal telah terjadi perubahan posisi Golkar yang mendukung Jokowi.

"Kami mendukung pemerintahan Jokowi tanpa syarat. Soal reshuffle, kalau kami diikutkan bersyukur. Kalau tidak ya alhamdulillah," tambas Idrus.

Golkar hanya berharap agar reshuffle kabinet harus bisa menjamin efektivitas kerja. Saat didesak soal nama dan jatah menteri itu, Idrus mengaku tak ada pembicaraan soal jatah menteri untuk Golkar.

"Kami mendapat ucapan selamat dari presiden. Kami juga sampaikan bahwa Golkar akan melakukan akselerasi kerja. Ini mirip Kabinet Kerja," kata Idrus.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Golkar Setyo Novanto menyatakan tak pernah berpikir meminta atau berharap jatah menteri. Sebab, itu hak preogatif presiden.

"Sejauh ini belum ada pembicaraan soal resuffle kabinet dengan kami," kata Setyo.

Seperti diketahui, Golkar dalam Pilpres 2014 mendukung lawan Jokowi, Prabowo Subianto, dan kini berbalik arah.

Pada Pilpres 2004, Golkar juga mendukung pasangan Megawati-Hasyim Muzadi. Ketika pemenangnya ternyata Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Golkar juga putar haluan mendukung rezim SBY-JK. 

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved